Friday, April 24, 2009

TENTANG PEMILU SEKARANG

Wednesday, April 22, 2009

Pemilu Caleg, 9 April 2009 sudah lewat. Begitu banyak pro-kontra mempertanyakan keabsahan Pemilu, dikhawatirkan terjadi banyak penggelembungan suara dan kecurangan2 lainnya.

Aku kagak gitu ngerti tentang Pemilu kali ini.

Sejak awal dengar bakal ada ‘Pemilu Caleg’, Caleg akan dipilih langsung oleh rakyat, aku kok merasa kurang sreg ya. Tadinya kupikir mungkin karena sebuah perubahan, sebuah sistem baru, butuh waktu untuk penyesuaian. Tapi mpe sekarang rasa kurang sreg n ga ngerti dengan sistem baru ini tetap ada. Apa aku yg kurang mencari informasi tentang sistematika Pemilu ini ya.

Tapi memang iya sih. Pemilu Caleg ini begitu rawan money politic, rawan KKN. Dan begitu banyak orang yg ga mengenal caleg2, akhirnya akan banyak yg lebih memilih Golput, asal nyontreng atau salah nyontreng.

Waktu Pemilu kemarin, tiap ketemu teman2ku atau tetanggaku, pasti banyakan berkomentar, tidak tahu harus nyontreng yg mana coz ga ada yg kenal. Apalagi aku, terbiasa tinggal di Bandung, kemarin ikut Pemilu Caleg di daerah asal, akhirnya ya asal nyontreng aja coz sama sekali ga kenal caleg2nya. Yg penting Partainya kan……

Ibuku yg getol mempromosikan salah satu caleg,malah dia salah nyontreng coz bingung saking gedhenya lembaran kertas. Adikku yg baru pertama kali nyontreng, juga salah nyontreng. Bisa dimaklumi coz baru belajar. He he

Aku yg sejak awal dipromosiin oleh Ibuku supaya ikut nyontreng caleg jagoannya, memang sengaja ga memilih dia coz beda partai dengan partai yg aku pilih. Boleh donk beda. Sejak awal Ibuku juga tau, kita berbeda pandangan. He he he…. Biar bervariasi.

Kata ayahku, kalau memilih partai kecil, terus partainya kalah, suara kita akan hilang, mending milih partai yang kira2 suara kita bisa terakomodinir. He he ga taulah. Mpe waktu nyontreng hampir habis, ayah dan ibuku masih berdebat soal ini di rumah.

Soal surat panggilan Pemilu. Mungkin karena sistem kependudukan yg belum online, akhirnya data juga belum up to date. Kakekku yang sudah almarhum, om2ku yang sudah lama merantau yang sebenarnya sudah lama tidak terdaftar di KK keluargaku, semua mendapat undangan nyontreng. Yah, mungkin undangan dibuat berdasarkan KK lama. Untung kakekku ga datang memenuhi undangan, klo datang….. bisa2 bikin heboh. He he

Waktu nyontreng, suer aku bingung harus nyontreng yg mana. Sama sekali blank ga ada bayangan lihat deretan nama2 caleg, so asal saja di deretan partai yg aku vote in, pilih caleg sesuai filling aja, yg kira2 namanya meyakinkan. He he. Padahal nama belum tentu menjamin ya. Apalah arti sebuah nama. Form merah, kuning, hijau, biru, di antara keempat warna itu Caleg yg aku contreng yg aku tahu benar cuma 2 orang. So fifty fifty lah, dp blank sama sekali. Mau milih caleg yang dari wajahnya kelihatan intelektual juga ga bisa, di form cuma deretan nama doank, ga ada foto yg terpampang. Klo mau lihat foto ada ditempel di papan display, tapi males mau lihat dulu, pasti lupa lagi lupa lagi.

Untuk Pemilu model begini, pastinya yg banyak diuntungkan Caleg dari kalangan selebritis. Nama mereka sudah banyak dikenal public, so akan banyak orang yg prefer nyontreng mereka dp nyontreng nama yg tidak dikenal. Untuk Caleg yg punya dana kampanye tinggi atau punya koneksi dan family banyak, mereka juga akan memperoleh lebih banyak dukungan. So unsur KKN banyak main di sini.

Kenapa aku ngerasa Pemilu seperti ini kurang efektif ya. Aku prefer Pemilu tahap I memilih Partai saja, baru Pemilu tahap ke-2 memilih Capres langsung bolehlah. Memilih Capres langsung, paling tidak kita sudah tahu sosok yg kita pilih, sosok yang lebih familiar. Lha para caleg ini, banyak yg sama sekali belum kenal, tahu namanya saja pas hari H Pemilu. Dan Pemilu seperti ini jauh lebih ‘boros’. Coba bejuta-juta lembaran kertas segedhe gitu, mana tebal and berwarna lagi, butuh budget yg besar kan? Belum lagi untuk baliho, brosur2, poster, leaflet, spanduk, atribut caleg dan partai yang bertebaran di jalan2 yang kebanyakan terbuang percuma. Tingkat mobilitas uang yang begitu tinggi.

Soal pemilihan Caleg, aku merasa lebih sreg kalau itu diserahkan ke partainya saja. Biar menjadi urusan internal partai toh mereka yg lebih tahu person2nya mana yg berkompenten, mana yg capable, mana yg berdedikasi. Partai juga ga akan sembarangan menempatkan caleg mereka duduk di kursi dewan, pastinya dengan begitu banyak pertimbangan demi tetap solidnya partai.

Pemilu seperti ini, akhirnya pada main jor2an. Caleg dgn modal gedhe, punya dana kampanye gedhe, pasang aneka perangkat publikasi di mana2 ampe jalan raya penuh dengan deretan poster dan atribut partai. Ampe lampu pengatur lalu lintas juga banyak yg ga terlihat coz ketutup aneka bendera, poster dan spanduk, bikin kemacetan. Wah… bener2 sebuah pemandangan yg tidak bagus, apalagi pemasangan aneka perangkat publikasi ini begitu tidak sistematis, asal pasang dan asal bisa dilihat banyak orang. Jadi benar2 crowded, merusak keindahan. Hal ini pun sempat menjadi uneg2 turis asing yang berwisata ke Bali, mereka merasa jadi tidak nyaman.

Usai Pemilu tahap I ini, banyak caleg yg gagal, yg kalah suara jadi stress, bahkan ada yg mpe nekad bunuh diri. Coba, seseorang dgn mental seperti itu mencalonkan diri menjadi Caleg. Gimana kalau nanti benar2 terpilih, mendapat tekanan sedikit saja pasti akan langsung down, tak berkutik menerima suap atau gertakan, apa bisa orang seperti itu mengaspirasi suara rakyat.

Yah, ga taulah. Mg2 perubahan sistem ini bisa membawa perubahan ke arah yg lebih baik. Pelan tapi pasti, semoga sistem baru ini bisa berjalan dengan tertib dan bisa dimengerti semua pihak, bukan cuma asal ngerti saja, supaya benar2 bisa kena sasaran dan menghasilkan pemimpin yg benar2 bisa memimpin dan memajukan bangsa ini. Amin.

He he… boleh kan berpendapat………… ^_^

No comments: