Wednesday, May 19, 2010

PELANGI PERTAMAKU DI BANDUNG

Saturday, February 20, 2010

Update sms :
Tepat pk.06.00 pagi,
ketika kubuka pintu,
kulihat sebentuk pelangi.
‘Really rainbow….that so many many years I haven’t seen’
Dan aku teriak… ‘Hei ada pelangi’
Pertanda apakah ini?
Akankah ada pelangi yang akan hadir mewarnai hari-hariku???

Pagi yg lebai.
Have a great day.
Semoga benar akan ada pelangi yang akan membuat hari2 kita lebih berwarna. Semangat!!!!!!

Reply from
Dhex :
Ameen.
Selama kita percaya, tidak ada sesuatu yang mustahil terjadi.
Yang penting harapan dan terus berusaha. ^_^

Week :
Nang kene malah ra kethok apa2. Peteng.

Selly :
Aq t’akhir liat pelangi tepat 1 Jan 2010 pas pul k jogja dr magelang. Pancen apix krn jarang liat. Heuheu

Riz:
Baca smsmu langsung kubuka tirai jendela, berharap pelangi itu bisa kulihat juga.
Langit tampak biru cerah, tapi ternyata belum kelihatan sejauh mataku memandang.
Hueheheehe

D next sms:
Pelangi itu baru separo kulihat,
Belum tampak utuh.
Kapan ya jd bener2 utuh, biar hari2ku lebih berwarna…hihi

Reply from
Riz :
Ayooooo sama-sama semangat,
Pelangi itu akan nampak utuh….
setiap detik waktu yang kita lalui tdk lepas dari pandanganNYA.
JanjiNYA tidak pernah gagal dalam hidup kita.


Xixixixi lebai berbalas lebai.
Pelangi oh pelangi……
Pelangi pertamaku di Bandung
Berharap bisa lebih sering lihat pelangi……
I hope so……… ^_^

GENAP 1 MINGGU TANPA FB

Thursday, February 25, 2010

‘Wah……ga terasa sudah berjalan 1 minggu, ternyata aku bisa!’
Tepatnya harusnya bukan seperti itu. TAPIIIII………
‘Yah…..baru 1 minggu. Ternyata masih 38 hari lagi. Lamaaaaaaaaaaaa niaaaaaaaaaaaaaaaaaaan…………….’
Satu minggu aja berasa kaya dah 1 bulan terkungkung dari dunia luar. Gimana rasanya 5 minggu. Pasti berasa kek ½ tahun. Whuaaaah…………

Kangen komen2an ma temen2ku yg super duper bodor n komen2nya amat menohok tapi menghibur.
Ga tahan, aku dah berniat mau sms Selly, tapi tryt Selly pun merasakan hal yg sama, dia sms duluan.
‘Hampa’. Yaya… Selly merasa hampa,, sedang aku merasa ‘kosong’. Apa bedanya…………
Sms berlanjut, dapat forward sms dari pi2t. Pi2t tryt kangen ma kita2, dia kesepian. ‘Come back pliz!!!!’, ratapnya.
Sebenarnya aku juga dah pengin come back, tapi apa daya, masih 38 hari lagi. Semakin banyak yg meragukanku aku bisa 1 bulan tanpa Fb, semakin tertantang aku. “Ya ya ya……… Harus bisa!!!’

Lagi dikejar deadline gini, biasanya saat dah mulai jenuh ma kerjaan, aku view fb bentar, sekedar cari hiburan, dan biasanya itu amat sangat membantu. Dan sekarang……… Terpaksa harus rela hanya ditemani MP3 n 161 Game. TV yang kadang2 bisa sedikit mengurangi ketegangan, lagi korslet. Yah, nasib…. nasib….
Ternyata Selly pun lagi dikejar deadline, dia harus berpuas diri dengan mendengarkan siaran radio.
Harga yang harus kita bayar ternyata mahal juga ya. So…… kata Selly, nti klo sukses, kita harus menghadiahi diri sendiri.
Yayaya…… Nanti naik jes jes jes…. Nanti arjer…. Nanti makan yg uenak – uenak….
Semangat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

MENCOBA HIDUP TANPA FB

Friday, February 19, 2010

Ya, aku dikejar deadline. Akhir bulan ini sudah harus kelar. Sesuatu yg buatku begitu mustahil dgn plans-ku yg akhir2 ini acak-adul coz begitu banyak yg hrs ku-handle. Aku sudah pasrah saja. Mg2 bisa kukejar.
Satu2nya cara untuk lebih mengefektifkan waktu, sementara libur Fb-an dulu. Dan aku tahu, ini akan begitu sulit, tanganku pasti akan gatal sebentar2 pengin access, sekedar kasih komen2 ga penting ke friend2-ku. Dan satu2nya cara yang ampuh…..’deactive FB’. Full deactived.
Bertepatan dgn pantang dan puasa, dimulai Rabu, 17 Februari. Saatnya ‘sing for absolution’. Kuputuskan pantang Fb, dan segala tetek bengek dunia maya. No Fb, no Ym, no browsing, no e-mail, no blog, pokoknya no accees. Mg2 kuat mpe Paska nanti.
Fb mulai ku-deactive-kan Selasa siang 16 Feb. Baru lewat sehari, tangan rasa gatal pengin login. Pengin update status, pengin view2 status. Tiap pegang hp, ky ada yg ngingetin, ‘lagi deactive’. Yaya…. Harus konsisten. Buktiin kamu bisa.
Hari 1 deactived, temenku menyadari ketidakeksisanku. Dia tanya. ‘Kamu deactived ya Nok?’
xixixi… ketahuan.
Huehuehue….. Ternyata aku dah addict dgn Fb. Sore2 waktu nonton acara ‘Tolong’ di RCTI. Ga tahan pengin update status. Akhirnya ku-sms 2 temenku. ‘Tolong’-RCTI, shooting di Jogja di depan Gedung Agung. Org Yk judes2. Huhuhu’. Akhirnya yg kita lakukan ‘update sms’.
Setelah lewat sehari, aku jadi mulai terbiasa. Tidak lagi sering2 update sms juga. Dan di hari ke-2 satu lagi temanku sms, ‘Fb-mu ngopo e?’
Hari ke-3, temenku, yg biasanya kita ga pernah absent saling komen2an, pagi2 dia sms. ‘Pa kabar? Ga prnh nongol di Fb, sibuk gawe ya? btw aku liat di berita bnyk wil Bdg banjir gmn tempatmu?’
Huehuehue….ternyata ada yg merasa kehilangan aku.
Maaf sudah kuputuskan akan deactive dulu mpe perayaan Paska nanti. Biarpun Week meragukanku ‘emang kuat?’ juga anak2 kostku. Akan kubuktikan kalau aku bisa.
Apalagi beberapa temen deketku di Yogya juga memutuskan deactive juga, pantang FB, juga diikuti temanku di Jkt bersama suaminya. Yayaya…… banyak teman seperjuangan. Harus semangat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Si Week n Dhex yang kutantang untuk pantang ‘Farmville’ bukan Fb, full mpe Paska, dia tidak berani menerima tantanganku. Dia lebih memilih pantang Farmville di hari Rabu Abu n Jumat aja. Panen di-set 3 hari sekali. Huhuhu… dasar ga niat.

Kesimpulan setelah menjalani ‘Hidup tanpa Fb’ :
1. Acara kejar deadline-ku bisa lebih cepat kelar, tanpa banyak waktu yg terbuang percuma untuk kasih2 komen ga penting, biarpun itu terkadang bisa amat menghiburku di saat benar2 jenuh ma rutinitas.
Yayaya. Ini amat membantu, coz aku sudah di-telp berkali-kali suruh cepet kasih annual report. Aturan baru lebih detail. Musti cepet. ‘Yayaya Pak, saya usahain’, janjiku.
2. Hidupku adalah milikku, waktuku adalah punyaku. Yayaya, rasanya aku benar2 bisa lebih ringan melangkah, tanpa merasa ada yg mengawasi. Kadang2 ada baiknya juga ngumpet dari dunia luar.
3. ‘No view’ yg aku tahu sebenarnya ga baik buatku untuk terus view. Yah, rasa ingin tahu yg mendorongku. Meski aku tahu, itu ga baik buatku, hanya membuatku merasa begitu menyedihkan. Akhirnya kuputuskan ‘no view anymore’ sejak akhir tahun kemarin. Biarpun kadang2 kulanggar, tapi frekuensi sudah tidak sesering dulu. Dan sekarang setelah tidak lagi atau belum lagi kulakukan, aku merasa hidupku menjadi lebih baik. Ya…. ‘Duniaku bukan duniamu, duniamu bukan duniaku’ Huehuehuehue……………
4. Pulsaku jadi lebih awet. Hehe… Dan ini benar2 penghematan.

Tapi minus-nya:
1. Jadi merasa kehilangan teman2ku yang super duper bodor dan amat sangat menghiburku. Kangen pengin komen2an lagiiiiiiiii…… Bikin rekor 100 komen lagiiiiiii……
2. Jadi banyak ketinggalan berita, info2 n gosip2 ter-gress.
Hehehe…kangen juga ma Fb.
Bertahan dan harus bertahan. Buktiin kamu bisa. Toh cuma ‘temporary deactived’ aja.
Facebook……wait me. I’ll be back……………………. soon…. ~_^

Tuesday, May 18, 2010

CROSS COUNTRY 2,5 JAM MENELUSURI HUTAN MARIBAYA



Hari minggu pagi, 7 Februari 2010, kumpul jam 6 pagi, kita siap2 hunting ijo2 melepas pandangan sejenak dari hiruk-pikuknya kota Bandung. Bersama rombongan 3 mobil, keluarga besar, lengkap dah, ada bapak-ibu, kakak-adik, anak2, bahkan bayi umur 4 bulan juga ga mau ikut ketinggalan, kita melaju menuju Taman Hutan Raya Maribaya.
Di awal perjalanan kita menelusuri sepanjang jogging track, semuanya bersemangat melangkahkan kaki. Serba hijau di kanan-kiri, hmmmmmmm sungguh memanjakan mata. Udara segar, menyejukkan raga dan suara gemericik air baik dari sungai yang kita lewati maupun suara air terjun di kejauhan sungguh menentramkan hati.
Jalan lumayan licin coz saking seringnya hujan turun.



Ternyata banyak juga hari itu rombongan2 lain yang berpapasan dengan kita. Ada beberapa yang naik sepeda. Ada juga 2 orang cewek bule yang berpapasan dengan kita. Suka salut dengan backpacker2 asing, mereka berani menelusuri negeri asing tanpa ditemani guide, hanya dengan bermodal peta dan tekad. Aku biarpun kadang2 suka nekad, sepertinya ga akan punya keberanian sebesar itu sendirian menjelajah negeri asing.

Sehabis menyeberangi jembatan, kita ada melewati budidaya lebah, di samping persis bendungan air. Di dekat situ ada rombongan organisasi ga tau dari mana yang lagi pada meeting menggelar tikar. Wah seru juga ya, meeting di alam terbuka gitu.


Rute cross country kita melewati jogging track, jika kita tempuh dengan berjalan kaki akan memakan waktu sekitar 4,5 jam. Untuk mempersingkat waktu, akhirnya diputuskan memotong jalan dengan mengambil jalan pintas mendaki bukit Maribaya. Tadinya mau menyeberangi sungai yang ada di sana, tapi coz di dalam rombongan ada banyak anak kecil, dirasa terlalu riskan. Kondisi arus air sungai begitu deras. Ya belakangan intensitas hujan memang lumayan. Akhirnya diputuskan berjalan memutar dan mulailah pendakian kita.


Mendaki bukit dengan kemiringan sekitar 45°, setapak demi setapak mendaki mengikuti satu jalur pendakian yang sepertinya jarang dijamah manusia coz benar2 seperti melewati hutan belantara. Jalan setapak sudah banyak ditumbuhi semak dan ilalang hingga kita harus sesekali menyibakkan ilalang yang menutup pandangan kita. Dan wow wow wow…… jalan begitu licin dan berlumpur. Harus hati2 coz bisa saja kita tergelincir, di sebelah kiri kita jurang begitu dalam. Sereeeemmmm……
Ada beberapa orang yang tergelincir jatuh, dan harus rela badan kotor berlepotan lumpur.
Perjalanan terasa begitu lama. Kok ga nyampe-nyampe ya. Rasanya aku dah pengin menyerah, si Etil nafasnya mpe sesek. Tapi heran, mereka2 yang di depanku sama sekali tidak ada yang berhenti sejenak untuk beristirahat. Itu yang kuharapkan biar aku bisa sejenak mengumpulkan tenaga. Tapi apa daya, semua terus berjalan dan berjalan, tidak mungkin bagiku untuk berhenti coz di belakangku masih banyak yang mengantre, sedangkan jalan cuma bisa dilewati oleh 1 orang, tidak bisa berpapasan.
Salut ma anak2 kecil, mereka pada kuat. ‘Ku tak sanggup………’ Beberapa kali kunyanyikan lagu ini. Dan disambut dengan ‘Bentar lagi udah nyampe!’ teriak Pak Iwan yang di depan. Begitu dan terus begitu tapi tidak kunjung sampai.



Beruntunglah kita, perjalanan kita begitu terberkati. Biarpun langit mendung tapi hujan tidak turun. Tak bisa kubayangkan jika sampe hujan turun akan seperti apa jadinya. Jalan akan semakin licin dan menyeramkan. Dan yang mengerikan………, menurut cerita2 yang baru diungkap beberapa hari setelah pendakian ini, ada banyak kejadian mistik selama pendakian. Tapi hal ini sengaja tidak diceritakan saat pendakian takut yang lain bakal pada ketakutan. Untunglah tidak terjadi hal2 yang tidak diinginkan. Kita semua selamat sampai tujuan.

Aku merasa jadi lebih tinggi coz lumpur yang menempel di sepatu kets-ku 3cm sendiri. Huehuehue…… ga bisa bayangin betapa harus berjuang ekstra untuk mencucinya nanti.
Semua terlihat begitu letih dan kotor. Etil dan beberapa yang lain langsung terduduk berselonjor kaki, dah tak peduli lagi, begitu saja langsung ngampar di tanah. Elis yang badannya gendut yang sejak di tengah pendakian merasa sudah tidak berdaya, begitu saja langsung merebahkan badannya di rerumputan dan baru mau beranjak setelah dibujuk klo habis itu kita langsung makan.



Yayaya…… lanjutkan perjalanan ke garis finish, ke rumah Yatie.
Katanya rumah Yatie ga jauh lagi. Ternyata oh ternyata…… kita masih harus berjalan lagi, naik-turun melewati area perkebunan penduduk.
Benar2 cape. Kaki serasa sudah kaku untuk melangkah. Tapi pemandangan di sekitar kita sungguh menyenangkan. Melintasi perkebunan cabe, tomat, bunga kol, jeruk, daun bawang, caisim, dan peternakan sapi perah yang baunya lumayan. Huehuehue……
Beberapa kali berpapasan dengan Pak & Bu tani yang baru pulang dari menggarap kebunnya. Mengingatkanku akan masa kecilku yang dulu sering ikut nenek-kakek ke ladang, menyemai benih jagung, menanam setek singkong, menanam biji kacang tanah, paria, gambas dan kacang panjang, sampai akhirnya memanennya. Huehuehue……jadi kangen saat2 itu. Jadi pengin berkebun lagi……



Ada juga petani yang tengah memanen tomat. Ya, kita mampir bentar untuk berfoto.
‘Hehe, Pak boleh ya numpang foto.’
‘Ya… ya…boleh neng!’
Sungguh menyenangkan.



Akhirnya setelah perjalanan yang semakin memperparah keadaan sepatu kita, sampailah di rumah Yatie. Kita cuci2 tangan-kaki, n then makan siang. Dilanjutkan dengan hiburan kesenian Sunda. Menyanyi2 dan ramah tamah, semuanya dalam Bahasa Sunda. Weizzzz……aku kagak ngerti.


Akhirnya aku ma Etil memilih kabur, jalan2 di sekitar rumah Yatie. Ketemu dengan bapak yang baru pulang memanen kacang panjang. Murah banget bowww… 1 ikat besar cuma dihargai Rp.2.000,-. Sungguh tak sebanding dengan jerih payahnya. Akhirnya beli deh buat oleh2 yang di kost.


Saking penginnya ke kebun jeruk, akhirnya mbujukin Yatie n adiknya supaya mau mengantarku ke sana. Etil, yang tahu ke kebun jeruk berarti harus berjalan turun lagi, kembali ke jalan yang sebelumnya kita lewati, sempat menolak. ‘Cape Buntil klo nanti pulangnya harus naik lagi, lagian langit mendung. Lihat itu kilatnya.’
Tapi akhirnya Etil ngikutin aku, Yatie n adik Yatie yang tetap kekeuh pengin ke kebun jeruk.

Sebenernya tadinya pengin juga susu murni langsung dari tempat perahnya, tapi berhubung aku tidak pesan sebelumnya jadi tidak memungkinkan. Ternyata ada jam2 tertentu untuk memerah susu sapi. Sebelumnya Yatie pernah membawakan susu sapi murni. Aku yg biasanya ga suka coz kataku terlalu amis, waktu itu doyan. Jadi pengin lagi.

Kita berjalan menelusuri kebun jeruk. Melewati kebun caisim, kebun daun bawang. Hihihihi senengnya. Palagi di situ ada juga strawberry dan blueberry. Saking senangnya memetik dan memetik, ga terasa aku dapat jeruk 2,5 kg. Hmmmm….. buat oleh2 yang di kost. Rasanya rada asem tapi seger. 2,5kg dihargai Rp.25.000,-. Sedangkan caisim dan daun bawang yang kuambil tidak dihitung coz katanya aku ngambilnya dikit banget. Hehehe makasih Bu.






Sebelum ke kebun jeruk, kita melewati kandang sapi perah. Aku sempet mampir bentar, ngobrol ma Bapak yang memeliharanya. Bapaknya baik dan ramah. Dia menjawab semua pertanyaan2ku coz rasa ingin tahuku yang besar. Sapi2 ini dijaga oleh beberapa anjing yang dirantai, yang tak henti2nya menyalak waktu aku mendekati kandang sapi. Hehe…. Anjing penjaga yang baik. Maaf ya, Cuma pengin lihat sebentar.


Anak2 kecil yg pada pengin diphoto.... ^_^
Sungguh pengalaman yang menyenangkan. Jadi pengin punya kebun sendiri. Rasanya sungguh damai melihat kehidupan di sana. Jauh dari keramaian, jauh dari polusi coz mobil tidak bisa masuk mpe sana. Penduduknya ramah2 dan sepertinya hidupnya penuh kedamaian. Hidup tanpa beban. Berbeda dengan tinggal di kota yang tingkat stressnya tinggi.

Jadi pengin tinggal menyepi, hidup dari berkebun dan miara ikan. Ya, tapi sekarang2 ini tidak mungkin. Aku punya tanggung jawab yang tidak bisa kutinggalkan. Jadi bermimpi, semoga suatu saat nanti bisa kesampaian punya area perkebunan dan sebuah rumah kecil di daerah pegunungan yang subur. Lahan sempit gapapa, yang penting bisa buat refreshing. Ya ya ya…… wish wish wish I wish….. ^_^

Thursday, May 6, 2010

JUST TRIAL

Duh, klo kali ini berhasil posting, berarti blog-ku msh bs diselamatkan.
I hope so.....

Sunday, January 24, 2010

TOUR DE SEMARANG, EVENTHOUGH JUST SHORT IN TIME

Thursday, January 21, 2010

Semarang………

Sebuah kota yang tadinya tak pernah terpikir sama sekali untuk tinggal di sana dan sama sekali tak pernah benar2 pengin singgah ke sana. Kota yang dalam bayanganku, amat panas, banyak nyamuk, suka banjir. Ternyata setelah aku menginjakkan kaki di kota ini. Aku menyukainya.

Kota yang ramah. Rasanya senang denger banyak orang yang bercakap-cakap menggunakan bahasa Jawa. Berasa di negeri sendiri.

Tata kotanya jauh lebih menyenangkan daripada Bandung yang sudah terlalu semrawut.

Hari minggu malam sekitar pk.22.00 WIB baru melaju dari Yogya, demi menunggu si Nick yang baru kelar rapat mudika. Ya, dia pengin banget ikut, setelah tidak bisa ikut melewatkan hari2 yang menyenangkan di Dieng. Malam yang dingin setelah sepanjang siang Yogya diguyur hujan angin. Kita menuju Ambarawa, ke Kerep. Ya. Aku dah lama banget pengin ziarah ke Kerep. Sampai Kerep pk.01.00 dini hari. Aku benar2 mengantuk. Tadinya aku ga mau kut turun untuk makan, tapi Dhex terus memaksaku untuk turun makan. Akhirnya aku menyusul mereka dan aku tidak menyesal. Kulihat tempe gembus bacem dan saren di depanku. Kyaaaaa………… I love it. Mie goreng pesananku bersisa banyak tapi aku menghabiskan 2 potong saren n 2 potong tempe gembus. Ga lupa ngebungkus beberapa biji buat Nick yang ga mau turun coz mengantuk.

Doa yang paling baik katanya pk.03.00 pagi. Akhirnya aku menuju tempat doa pk.03.00 pagi. Suasana terasa adem dan hening. Sungguh damai berdoa dalam suasana seperti ini. Ada beberapa orang yang juga tampak sedang berdoa. Dan ada kulihat beberapa backpacker yg numpang tidur di sana meskipun ada tulisan ‘Jangan tidur di sini’. Nakal ya………

Goa Kerep - Ambarawa

Setelah doa, Dhex mengajakku ke Taman Kerep yang katanya bagus banget. Lampu2 sudah dimatikan. Yang terlihat hanya gelap dan gelap. Berjalan tertatih-tatih menyusuri jalan setapak hanya disinari cahaya dari HP-ku. Hiiiiiiiiii…. Spoky banget. Beberapa kali aku terpeleset tapi ga sampai jatuh coz sandal plastikku memang terlalu licin untuk berjalan di bebatuan. Mana di salah satu tempat rada2 bau kembang. Untung ga ketemu yg aneh2. Sepertinya tamannya memang bagus. Someday kalau ke Kerep lagi harus pas siang hari, biar bisa lihat tamannya yang katanya bagus banget itu.erep lagi wajib coba.

Pk.04.55 kita dah nyampe di Semarang. Transit dulu ke hotel. Hotel Gracia dah full, akhirnya beralih ke Hotel Rinjani. Hotelnya enak, semacam cottage gitu. Dapat fasilitas garasi sendiri, dari garasi ada tangga langsung ke kamar.

Keluar dari Kerep masih pk.03.45. Ibu yang jualan pecel belum ada. Pecelnya terkenal banget mpe masuk ke daftar wajib wisata kuliner. Yayaya…. Nti klo ke Kerep lagi, wajib coba.

Pk.10.00 WIB Tour de Semarang kita dimulai. Dengan rute jalan yang hanya Week yang tahu dengan bantuan Dhex as navigator by phone. Week pernah 1 tahun kerja di Semarang, jadi masih rada2 apal ma jalan2 di sana.

Pertama kita ke kelenteng Sam Poo Kong. Serba merah. Buat foto berasa di Cina. Yayaya Cina wannabe.

Kata Sodo, kita bisa minta diramal di sana. Aku tanya ke satpam yang di sana, coz yang boleh masuk ke area kelenteng cuma yang memang mau sembahyang aja. Membeli dulu semacam dupa Rp.10.000,- itu bisa buat bertiga, akhirnya kita masuk ke kelenteng yang paling ujung. Menemui Bio Kong yang berpakaian serba hitam.

Bio Kong-nya cuma mau meramal yang sudah bekerja saja, si Nick yang masih kuliah belum boleh diramal.

Diawali dengan doa, akhirnya keluarlah angka buatku n Week. Dan herannya Bio Kong-nya tanpa pernah kami beritahu, tahu kalau aku tiap hari bergelut dengan pembukuan dan Week dengan computer. Hebat juga Bio Kong yang super duper bodor ini.

Sebenarnya Bio Kong ini tidak memasang tarif, sukarela aja yang minta diramal memberikan amplop seikhlasnya.

Dari Sam Poo Kong, kita mampir ke gereja Kathedral untuk berdoa. Katanya jika kita berdoa di gereja yang belum pernah kita masuki, 3 permohonan kita akan dikabulkan. Soooooo…… Don’t miss it.

Lanjut makan siang dulu ke Manggala CafĂ©. Pilihan menunya amat banyak, bikin bingung. Belum lagi pelayan2nya yang merubung kita dengan banyak daftar menu di tangannya. Bener2 ribut. Dan hasilnya ada 6 gelas minuman buat kita yang cuma bertiga. Haiyaaaaa………ini nanti yang bertanggung jawab ngabisin siapa……………… Kacau bener.

The next destination is Lawang Sewu. Bangunannya tepat di seberang Tugu Muda Semarang. Lumayan banyak pengunjung hari itu dan udara amat sangat panas mpe bikin keringat bercucuran. Di area depan ada lokomotif kereta kuno berkepala merah. Lumayan buat berfoto.

Dengan membayar @Rp.5.000,- kita bebas buat membuktikan apa benar pintunya memang ada seribu. Hehehehe….

Siang2 sudah terasa spoky banget, apalagi malam hari. Dan ruang bawah tanahnya……. Hiiiiiiiiiiii……………

Week n Nick ga mau masuk ke ruang bawah tanah. Dan aku beberapa kali di-warning ma Nick ga boleh macam2 apalagi berpose foto pura2 jadi hantu. Katanya typical penunggu di sana ‘suka mengikuti’.


Mampir bentar ke Bandeng Juwana, cari oleh2 dan beliin bandeng titipan temanku. Ngantree-nya banged nged. Dan aku kehabisan bandeng, cuma kebagian 1 biji bandeng vacuum. Ya maaf, ini titipan aja, yang lain jadinya tidak kebagian. Week beli kue moci dan ga ketinggalan kita menenteng wingko buat oleh2. Wingko yang terkenal di Semarang katanya wingko cap sepur, dan kita salah, ternyata ada banyak wingko dengan cap sepur. Yang kita ambil wingko cap sepur locomotif. Ya maaph……

Lumayan cape coz udara yang amat panas. Kita back to hotel untuk mandi and then check out pk.17.00. Lanjut de last tour keliling2 kawasan Kampung Laut, Taman Maerokoco, gedung PRPP (Pekan Raya Pameran Pembangunan) dan Pantai Marina. Sampai Pt. Marina sudah kemalaman, sudah pk.06.45. Tidak bisa lihat apa2 n tidak bisa berfoto. Tapi kita bisa dengar debur ombak, lihat kapal2 di kejauhan dan merasakan hembusan angin laut. Keknya klo siang bagus juga.

Kawasan Pantai Marina dikembangkan menjadi kawasan elite. Lumayan rame. Kawasan bisnis dengan tata bangunan gaya Eropa. Keren. Kita mampir makan ke Pondok Daun Resto. Tempat makan baru dengan penataan yang exotic. Keren banget dilihat dari kejauhan, temaram dengan banyak lampu2 kecil. Tadinya kupikir tempat makan ini harganya mahal coz berada di kawasan elite, ternyata harganya standar.

Pk. 19.30 beranjak meninggalkan kawasan Pt. Marina, kita hunting lumpia Semarang buat oleh2. Rada kapok klo besok lagi suruh bawa lumpia lagi. Baunya ga ilang2 menuh2in kereta, panasnya lumayan klo kena kulit n minyaknya nempel ke mana2.

Setelah hunting lumpia, kita masih sempet muter2 di kota lama, berhenti sebentar di depan gereja Blenduk. Ga bisa lama2 coz selain gerimis, waktu sudah menunjuk pk.20.15 sedang jadwal keretaku pk.20.30.

Akhirnya hari itu ngrasain naik kereta mundur. Dari Cikampek ke Bandung, Harina berjalan mundur……………………….

Yayaya…. Tour de Semarang sudah usai.

Kapan2 lanjut lagi.

Belum sempet masuk ke Museum Maerokaca, ke Pt. Marina pas siang, Goa Kreo n belum puas muter2 di kota lama.

Semarang…. Please wait me for coming back.

WISATA PAYUNG KE DIENG

Saturday, January 09, 2010

Sabtu, 26 Desember 2009, kita putusin mau jalan2 ke Dieng. Rencana mau berangkat pk.06.00 pagi dan tidak usah heran seperti biasa molor…… jadilah baru keluar dari pekarangan rumah pk. 07.20 WIB. Berangkat tanpa Nick yg lg sibuk dgn kegiatan Natal (dia jadi Ketua Panitia Natalan Lingkungan euy) n Ndra yg lg liburan keluarga ke Bali dan juga Selly yg membatalkan ikut 1 hari sebelumnya coz familinya pada datang.

Seperti biasa mom yang selalu care ke anak2nya n selalu mengajarkan pola hidup hemat, membekali kami dgn banyak makanan. Tak ketinggalan nasi bungkus, sega pondoh dan bacem tahu-tempe untuk makan siang kami.

‘Pergi dulu ya dedeku cayank! Baik2 ya di rumah,’ sembari melambaikan tangan ke Nick yg sebenarnya pengin banget ikut. Hehehehe kasihan sekali kau adekku………. ~_^

Lalu lintas di Magelang cukup padat, so kita gambling lewat jalur alternative yg sebenarnya tidak terlalu yakin benar. Akhirnya setelah 1x tanya, pk.12.00 kita sudah memasuki kawasan Dieng. Pertama yang kita tuju Agrowisata Tambi, kawasan perkebunan teh yang luas, berikut ada pabrik di dalamnya. Kita cuma muter2 aja, katanya klo mau masuk ke sana harus speak2 dulu ma penjaga di sana bilang mau penelitian..... hehehehehe

Kita langsung menuju ke Dieng. Dieng I’m coming........................

Memasuki Dieng yang kita lihat cuma putih dan putih. Kabut tebal menutup pandangan kita. ‘Duh...., sepertinya kita ke Dieng di saat yang tidak tepat,’ keluh kami.

Di bagian ticketing, kita bayar perkepala Rp.16.000,- itu sudah include semua lokasi, kecuali di Telaga Warna kita nanti masih harus nambah Rp.2.000,- lagi per orang.

Pertama kita muter2 ke area PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), kawasan Dipo Geo Energi. Bau menyengat belerang di mana2. Tadinya kita terpikir pengin ke bawah ke area pusat PLTU, tapi musti lapor dulu ke petugas. Sejak ada korban pingsan ga tahan dengan bau belerang, kawasan itu ditutup untuk umum, harus dengan izin khusus untuk bisa memasuki area itu. Akhirnya kita puas2in cukup dengan hanya berfoto-foto saja di sana.

Kita lanjut ke kawah Sikidang. Kawah yang tidak henti2nya mengeluarkan uap panas. Bau belerang di mana2. Dan kita mengalami hujan yang cukup deras di sana, akhirnya kita berteduh di salah satu gazebo. Dari gazebo kita lihat pemandangan yang memacu adrenalin dibumbui kenekadan yg amat sangat. Dalam kondisi hujan dan tanah yang licin, ada 3 pengendara sepeda motor yang meluncur turun dari puncak bukit meluncur ke bawah ke arah kawah.

Bernyali juga ni orang. Tergelincir sedikit saja tamat riwayatnya masuk ke kawah yang airnya terus bergolak, ga tau berapa derajat Celcius suhunya. Dan untungnya tidak terjadi hal2 yang dikhawatirkan, justru aku yg deg2an takut ada yang tergelincir dan jatuh.

Hujan ternyata menyelamatkan kita. Beruntung hari itu hujan turun. Hujan berhasil menghalau kabut pergi. Akhirnya pemandangan apik Dieng bisa kita nikmati dengan berpayung ria. Ke mana2 pake payung.

Candi Gatotkaca dan candi Bima kita nikmati dari kejauhan. Tidak memungkinkan untuk turun coz hujan yang amat deras. Kita terus menuju ke kawasan Candi yang paling luas. Kompleks candi Arjuna dkk.

Hujan tinggal rintik2 kita menyusuri candi dengan payung yang tak pernah lepas dari tangan kita.

Whuuiiiiiiih............. Pemandangan yang amat menawan. 5 buah candi berlatar pegunungan menghijau.

Kyaaaaa........ cantik banget.

Memasuki kawasan ini, pertama kali kita jumpai candi Arjuna dan candi Semar di depannya. Di bagian tengah, Candi Puntadewa yang diapit oleh candi Srikandi dan candi Sembadra.

Kalau di cerita pewayangan, tentang Pandawa lima, Puntadewa adalah sang raja Amarta beristrikan Dewi Srikandi dan Dewi Sembadra. Arjuna adalah satria yang paling tampan dan jago memanah di antara satria Pandawa yang lain. Dia paling bungsu. Dan Semar adalah pengasuh mereka, titisan Batara Guru.

Konon ada mitos, barangsiapa yang pengin segera dapat jodoh, silakan berjalan mengelilingi candi ini sembari make a wish. Tapi tidak jelas candi yang mana. Ada yg bilang untuk cowok mengelilingi candi Arjuna, dan untuk cewek mengelilingi candi Srikandi. Berapa kali? Tidak jelas juga.

Karena rasa ingin tahu yang besar, akhirnya kusamperin rombongan pengamen yg sedang menyanyi dengan riangnya. Aku cuma niat nanya ke satu orang, eh malah satu rombongan berhenti nyanyi semua, pada ikut2an menjawab pertanyaanku. Hehehehe.......

Mereka bilang mitos itu memang ada tapi di candi Dwarawati. Candi ini lumayan jauh letaknya, terpisah dari kawasan wisata lain yang letaknya berdekatan, ada di perkampungan penduduk, jadi jarang dikunjungi orang. Berapa kali harus mengelilingi candi? Mereka juga tidak tahu. ‘Terserah mau 3x atau 7x. Tanya aja ke juru kuncinya mbak’. Hehehehehe........

Keluar dari kompleks kita melewati semacam reruntuhan bangunan, ‘Dharma sala’, Dulunya berfungsi sebagai tempat persiapan upacara dan menaruh perlengkapan upacara keagamaan umat Hindhu.

The last destination, kita ke Telaga Warna. Kupikir tadinya bakal lihat telaga dengan banyak warna kek pelangi, ternyata ga jauh beda dengan Kawah putih. Didominasi warna hijau dengan semburat kecoklatan di sana-sini. Di kawasan ini bisa kita lihat juga telaga pengilon (pengilon dalam bhs Jawa artinya cermin), yang waktu kutengok airnya keruh, sama sekali ga bisa buat bercermin, malahan banyak yang pada mancing di sana.

Ada juga gua Semar, gua Sumur dan gua Jaran. Semuanya tampak spokiiiiy.....dengan bau sesajen yang amat sangat. Goa2 ini dipagar untuk mengantisipasi supaya tidak ada pengunjung yang nekad masuk, konon berbahaya. Biasanya dijadikan tempat bersemadi buat mereka yang mencari wangsit.

Dan Dieng Plateau Theater, yang belum kesampean ke sana. Aku pengin banget ke sana, lihat dari kejauhan juga gapapa. Tapi yg lain merasa dah kesorean takut mpe Yogya kemaleman. Ya udah…. Nti lain kali klo ke Dieng lagi. Di sana ditayangkan film tentang asal mula terjadinya Dieng, erupsi Dieng dsb. Semacam film documenter.

Otw pulang, kabut kembali turun. Dan kita terpaksa jalan pelan2 mengekor mobil di depan coz bahaya banyak jurang di sepanjang jalan. Marka jalan benar2 berguna di saat2 seperti ini. Ga ketinggalan makan malam kita, mie ongklok. Makanan khas Wonosobo yang biasa dimakan dengan pelengkap sate ayam atau sate sapi. Kita pilih Resto Ongklok di Bima Plaza Lt.2 Jl. Dieng Km 1 Wonosobo, atas referensi Ndra. Resto yang penataannya apik dengan harga yang murah, sama sekali di luar perkiraan kita. Ga ketinggalan nyobain carica ice. Yummy…………

Dieng…. Oh Dieng…….

Ga menyangka ada kawasan yang begitu indah di tempat yang tersembunyi di balik pegunungan……………

Recommended to visit and to get home stay there.

Tadinya kepikir pengin bermalam demi mengejar sunrise di sana, toh banyak homestay yang bisa kita pilih di sana. Tapi tampaknya juga percuma, kabut terlalu tebal, sunrise and sunset tidak akan mungkin bisa kita nikmati.

May be next time…….

Ya ya ya……… next time……