Sunday, January 24, 2010

TOUR DE SEMARANG, EVENTHOUGH JUST SHORT IN TIME

Thursday, January 21, 2010

Semarang………

Sebuah kota yang tadinya tak pernah terpikir sama sekali untuk tinggal di sana dan sama sekali tak pernah benar2 pengin singgah ke sana. Kota yang dalam bayanganku, amat panas, banyak nyamuk, suka banjir. Ternyata setelah aku menginjakkan kaki di kota ini. Aku menyukainya.

Kota yang ramah. Rasanya senang denger banyak orang yang bercakap-cakap menggunakan bahasa Jawa. Berasa di negeri sendiri.

Tata kotanya jauh lebih menyenangkan daripada Bandung yang sudah terlalu semrawut.

Hari minggu malam sekitar pk.22.00 WIB baru melaju dari Yogya, demi menunggu si Nick yang baru kelar rapat mudika. Ya, dia pengin banget ikut, setelah tidak bisa ikut melewatkan hari2 yang menyenangkan di Dieng. Malam yang dingin setelah sepanjang siang Yogya diguyur hujan angin. Kita menuju Ambarawa, ke Kerep. Ya. Aku dah lama banget pengin ziarah ke Kerep. Sampai Kerep pk.01.00 dini hari. Aku benar2 mengantuk. Tadinya aku ga mau kut turun untuk makan, tapi Dhex terus memaksaku untuk turun makan. Akhirnya aku menyusul mereka dan aku tidak menyesal. Kulihat tempe gembus bacem dan saren di depanku. Kyaaaaa………… I love it. Mie goreng pesananku bersisa banyak tapi aku menghabiskan 2 potong saren n 2 potong tempe gembus. Ga lupa ngebungkus beberapa biji buat Nick yang ga mau turun coz mengantuk.

Doa yang paling baik katanya pk.03.00 pagi. Akhirnya aku menuju tempat doa pk.03.00 pagi. Suasana terasa adem dan hening. Sungguh damai berdoa dalam suasana seperti ini. Ada beberapa orang yang juga tampak sedang berdoa. Dan ada kulihat beberapa backpacker yg numpang tidur di sana meskipun ada tulisan ‘Jangan tidur di sini’. Nakal ya……

Goa Kerep - Ambarawa

Setelah doa, Dhex mengajakku ke Taman Kerep yang katanya bagus banget. Lampu2 sudah dimatikan. Yang terlihat hanya gelap dan gelap. Berjalan tertatih-tatih menyusuri jalan setapak hanya disinari cahaya dari HP-ku. Hiiiiiiiiii…. Spoky banget. Beberapa kali aku terpeleset tapi ga sampai jatuh coz sandal plastikku memang terlalu licin untuk berjalan di bebatuan. Mana di salah satu tempat rada2 bau kembang. Untung ga ketemu yg aneh2. Sepertinya tamannya memang bagus. Someday kalau ke Kerep lagi harus pas siang hari, biar bisa lihat tamannya yang katanya bagus banget itu.erep lagi wajib coba.

Pk.04.55 kita dah nyampe di Semarang. Transit dulu ke hotel. Hotel Gracia dah full, akhirnya beralih ke Hotel Rinjani. Hotelnya enak, semacam cottage gitu. Dapat fasilitas garasi sendiri, dari garasi ada tangga langsung ke kamar.

Keluar dari Kerep masih pk.03.45. Ibu yang jualan pecel belum ada. Pecelnya terkenal banget mpe masuk ke daftar wajib wisata kuliner. Yayaya…. Nti klo ke Kerep lagi, wajib coba.

Pk.10.00 WIB Tour de Semarang kita dimulai. Dengan rute jalan yang hanya Week yang tahu dengan bantuan Dhex as navigator by phone. Week pernah 1 tahun kerja di Semarang, jadi masih rada2 apal ma jalan2 di sana.

Pertama kita ke kelenteng Sam Poo Kong. Serba merah. Buat foto berasa di Cina. Yayaya Cina wannabe.

Kata Sodo, kita bisa minta diramal di sana. Aku tanya ke satpam yang di sana, coz yang boleh masuk ke area kelenteng cuma yang memang mau sembahyang aja. Membeli dulu semacam dupa Rp.10.000,- itu bisa buat bertiga, akhirnya kita masuk ke kelenteng yang paling ujung. Menemui Bio Kong yang berpakaian serba hitam.

Bio Kong-nya cuma mau meramal yang sudah bekerja saja, si Nick yang masih kuliah belum boleh diramal.

Diawali dengan doa, akhirnya keluarlah angka buatku n Week. Dan herannya Bio Kong-nya tanpa pernah kami beritahu, tahu kalau aku tiap hari bergelut dengan pembukuan dan Week dengan computer. Hebat juga Bio Kong yang super duper bodor ini.

Sebenarnya Bio Kong ini tidak memasang tarif, sukarela aja yang minta diramal memberikan amplop seikhlasnya.

Dari Sam Poo Kong, kita mampir ke gereja Kathedral untuk berdoa. Katanya jika kita berdoa di gereja yang belum pernah kita masuki, 3 permohonan kita akan dikabulkan. Soooooo…… Don’t miss it.

Lanjut makan siang dulu ke Manggala CafĂ©. Pilihan menunya amat banyak, bikin bingung. Belum lagi pelayan2nya yang merubung kita dengan banyak daftar menu di tangannya. Bener2 ribut. Dan hasilnya ada 6 gelas minuman buat kita yang cuma bertiga. Haiyaaaaa………ini nanti yang bertanggung jawab ngabisin siapa……………… Kacau bener.

The next destination is Lawang Sewu. Bangunannya tepat di seberang Tugu Muda Semarang. Lumayan banyak pengunjung hari itu dan udara amat sangat panas mpe bikin keringat bercucuran. Di area depan ada lokomotif kereta kuno berkepala merah. Lumayan buat berfoto.

Dengan membayar @Rp.5.000,- kita bebas buat membuktikan apa benar pintunya memang ada seribu. Hehehehe….

Siang2 sudah terasa spoky banget, apalagi malam hari. Dan ruang bawah tanahnya……. Hiiiiiiiiiiii……………

Week n Nick ga mau masuk ke ruang bawah tanah. Dan aku beberapa kali di-warning ma Nick ga boleh macam2 apalagi berpose foto pura2 jadi hantu. Katanya typical penunggu di sana ‘suka mengikuti’.


Mampir bentar ke Bandeng Juwana, cari oleh2 dan beliin bandeng titipan temanku. Ngantree-nya banged nged. Dan aku kehabisan bandeng, cuma kebagian 1 biji bandeng vacuum. Ya maaf, ini titipan aja, yang lain jadinya tidak kebagian. Week beli kue moci dan ga ketinggalan kita menenteng wingko buat oleh2. Wingko yang terkenal di Semarang katanya wingko cap sepur, dan kita salah, ternyata ada banyak wingko dengan cap sepur. Yang kita ambil wingko cap sepur locomotif. Ya maaph……

Lumayan cape coz udara yang amat panas. Kita back to hotel untuk mandi and then check out pk.17.00. Lanjut de last tour keliling2 kawasan Kampung Laut, Taman Maerokoco, gedung PRPP (Pekan Raya Pameran Pembangunan) dan Pantai Marina. Sampai Pt. Marina sudah kemalaman, sudah pk.06.45. Tidak bisa lihat apa2 n tidak bisa berfoto. Tapi kita bisa dengar debur ombak, lihat kapal2 di kejauhan dan merasakan hembusan angin laut. Keknya klo siang bagus juga.

Kawasan Pantai Marina dikembangkan menjadi kawasan elite. Lumayan rame. Kawasan bisnis dengan tata bangunan gaya Eropa. Keren. Kita mampir makan ke Pondok Daun Resto. Tempat makan baru dengan penataan yang exotic. Keren banget dilihat dari kejauhan, temaram dengan banyak lampu2 kecil. Tadinya kupikir tempat makan ini harganya mahal coz berada di kawasan elite, ternyata harganya standar.

Pk. 19.30 beranjak meninggalkan kawasan Pt. Marina, kita hunting lumpia Semarang buat oleh2. Rada kapok klo besok lagi suruh bawa lumpia lagi. Baunya ga ilang2 menuh2in kereta, panasnya lumayan klo kena kulit n minyaknya nempel ke mana2.

Setelah hunting lumpia, kita masih sempet muter2 di kota lama, berhenti sebentar di depan gereja Blenduk. Ga bisa lama2 coz selain gerimis, waktu sudah menunjuk pk.20.15 sedang jadwal keretaku pk.20.30.

Akhirnya hari itu ngrasain naik kereta mundur. Dari Cikampek ke Bandung, Harina berjalan mundur……………………….

Yayaya…. Tour de Semarang sudah usai.

Kapan2 lanjut lagi.

Belum sempet masuk ke Museum Maerokaca, ke Pt. Marina pas siang, Goa Kreo n belum puas muter2 di kota lama.

Semarang…. Please wait me for coming back.

WISATA PAYUNG KE DIENG

Saturday, January 09, 2010

Sabtu, 26 Desember 2009, kita putusin mau jalan2 ke Dieng. Rencana mau berangkat pk.06.00 pagi dan tidak usah heran seperti biasa molor…… jadilah baru keluar dari pekarangan rumah pk. 07.20 WIB. Berangkat tanpa Nick yg lg sibuk dgn kegiatan Natal (dia jadi Ketua Panitia Natalan Lingkungan euy) n Ndra yg lg liburan keluarga ke Bali dan juga Selly yg membatalkan ikut 1 hari sebelumnya coz familinya pada datang.

Seperti biasa mom yang selalu care ke anak2nya n selalu mengajarkan pola hidup hemat, membekali kami dgn banyak makanan. Tak ketinggalan nasi bungkus, sega pondoh dan bacem tahu-tempe untuk makan siang kami.

‘Pergi dulu ya dedeku cayank! Baik2 ya di rumah,’ sembari melambaikan tangan ke Nick yg sebenarnya pengin banget ikut. Hehehehe kasihan sekali kau adekku………. ~_^

Lalu lintas di Magelang cukup padat, so kita gambling lewat jalur alternative yg sebenarnya tidak terlalu yakin benar. Akhirnya setelah 1x tanya, pk.12.00 kita sudah memasuki kawasan Dieng. Pertama yang kita tuju Agrowisata Tambi, kawasan perkebunan teh yang luas, berikut ada pabrik di dalamnya. Kita cuma muter2 aja, katanya klo mau masuk ke sana harus speak2 dulu ma penjaga di sana bilang mau penelitian..... hehehehehe

Kita langsung menuju ke Dieng. Dieng I’m coming........................

Memasuki Dieng yang kita lihat cuma putih dan putih. Kabut tebal menutup pandangan kita. ‘Duh...., sepertinya kita ke Dieng di saat yang tidak tepat,’ keluh kami.

Di bagian ticketing, kita bayar perkepala Rp.16.000,- itu sudah include semua lokasi, kecuali di Telaga Warna kita nanti masih harus nambah Rp.2.000,- lagi per orang.

Pertama kita muter2 ke area PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), kawasan Dipo Geo Energi. Bau menyengat belerang di mana2. Tadinya kita terpikir pengin ke bawah ke area pusat PLTU, tapi musti lapor dulu ke petugas. Sejak ada korban pingsan ga tahan dengan bau belerang, kawasan itu ditutup untuk umum, harus dengan izin khusus untuk bisa memasuki area itu. Akhirnya kita puas2in cukup dengan hanya berfoto-foto saja di sana.

Kita lanjut ke kawah Sikidang. Kawah yang tidak henti2nya mengeluarkan uap panas. Bau belerang di mana2. Dan kita mengalami hujan yang cukup deras di sana, akhirnya kita berteduh di salah satu gazebo. Dari gazebo kita lihat pemandangan yang memacu adrenalin dibumbui kenekadan yg amat sangat. Dalam kondisi hujan dan tanah yang licin, ada 3 pengendara sepeda motor yang meluncur turun dari puncak bukit meluncur ke bawah ke arah kawah.

Bernyali juga ni orang. Tergelincir sedikit saja tamat riwayatnya masuk ke kawah yang airnya terus bergolak, ga tau berapa derajat Celcius suhunya. Dan untungnya tidak terjadi hal2 yang dikhawatirkan, justru aku yg deg2an takut ada yang tergelincir dan jatuh.

Hujan ternyata menyelamatkan kita. Beruntung hari itu hujan turun. Hujan berhasil menghalau kabut pergi. Akhirnya pemandangan apik Dieng bisa kita nikmati dengan berpayung ria. Ke mana2 pake payung.

Candi Gatotkaca dan candi Bima kita nikmati dari kejauhan. Tidak memungkinkan untuk turun coz hujan yang amat deras. Kita terus menuju ke kawasan Candi yang paling luas. Kompleks candi Arjuna dkk.

Hujan tinggal rintik2 kita menyusuri candi dengan payung yang tak pernah lepas dari tangan kita.

Whuuiiiiiiih............. Pemandangan yang amat menawan. 5 buah candi berlatar pegunungan menghijau.

Kyaaaaa........ cantik banget.

Memasuki kawasan ini, pertama kali kita jumpai candi Arjuna dan candi Semar di depannya. Di bagian tengah, Candi Puntadewa yang diapit oleh candi Srikandi dan candi Sembadra.

Kalau di cerita pewayangan, tentang Pandawa lima, Puntadewa adalah sang raja Amarta beristrikan Dewi Srikandi dan Dewi Sembadra. Arjuna adalah satria yang paling tampan dan jago memanah di antara satria Pandawa yang lain. Dia paling bungsu. Dan Semar adalah pengasuh mereka, titisan Batara Guru.

Konon ada mitos, barangsiapa yang pengin segera dapat jodoh, silakan berjalan mengelilingi candi ini sembari make a wish. Tapi tidak jelas candi yang mana. Ada yg bilang untuk cowok mengelilingi candi Arjuna, dan untuk cewek mengelilingi candi Srikandi. Berapa kali? Tidak jelas juga.

Karena rasa ingin tahu yang besar, akhirnya kusamperin rombongan pengamen yg sedang menyanyi dengan riangnya. Aku cuma niat nanya ke satu orang, eh malah satu rombongan berhenti nyanyi semua, pada ikut2an menjawab pertanyaanku. Hehehehe.......

Mereka bilang mitos itu memang ada tapi di candi Dwarawati. Candi ini lumayan jauh letaknya, terpisah dari kawasan wisata lain yang letaknya berdekatan, ada di perkampungan penduduk, jadi jarang dikunjungi orang. Berapa kali harus mengelilingi candi? Mereka juga tidak tahu. ‘Terserah mau 3x atau 7x. Tanya aja ke juru kuncinya mbak’. Hehehehehe........

Keluar dari kompleks kita melewati semacam reruntuhan bangunan, ‘Dharma sala’, Dulunya berfungsi sebagai tempat persiapan upacara dan menaruh perlengkapan upacara keagamaan umat Hindhu.

The last destination, kita ke Telaga Warna. Kupikir tadinya bakal lihat telaga dengan banyak warna kek pelangi, ternyata ga jauh beda dengan Kawah putih. Didominasi warna hijau dengan semburat kecoklatan di sana-sini. Di kawasan ini bisa kita lihat juga telaga pengilon (pengilon dalam bhs Jawa artinya cermin), yang waktu kutengok airnya keruh, sama sekali ga bisa buat bercermin, malahan banyak yang pada mancing di sana.

Ada juga gua Semar, gua Sumur dan gua Jaran. Semuanya tampak spokiiiiy.....dengan bau sesajen yang amat sangat. Goa2 ini dipagar untuk mengantisipasi supaya tidak ada pengunjung yang nekad masuk, konon berbahaya. Biasanya dijadikan tempat bersemadi buat mereka yang mencari wangsit.

Dan Dieng Plateau Theater, yang belum kesampean ke sana. Aku pengin banget ke sana, lihat dari kejauhan juga gapapa. Tapi yg lain merasa dah kesorean takut mpe Yogya kemaleman. Ya udah…. Nti lain kali klo ke Dieng lagi. Di sana ditayangkan film tentang asal mula terjadinya Dieng, erupsi Dieng dsb. Semacam film documenter.

Otw pulang, kabut kembali turun. Dan kita terpaksa jalan pelan2 mengekor mobil di depan coz bahaya banyak jurang di sepanjang jalan. Marka jalan benar2 berguna di saat2 seperti ini. Ga ketinggalan makan malam kita, mie ongklok. Makanan khas Wonosobo yang biasa dimakan dengan pelengkap sate ayam atau sate sapi. Kita pilih Resto Ongklok di Bima Plaza Lt.2 Jl. Dieng Km 1 Wonosobo, atas referensi Ndra. Resto yang penataannya apik dengan harga yang murah, sama sekali di luar perkiraan kita. Ga ketinggalan nyobain carica ice. Yummy…………

Dieng…. Oh Dieng…….

Ga menyangka ada kawasan yang begitu indah di tempat yang tersembunyi di balik pegunungan……………

Recommended to visit and to get home stay there.

Tadinya kepikir pengin bermalam demi mengejar sunrise di sana, toh banyak homestay yang bisa kita pilih di sana. Tapi tampaknya juga percuma, kabut terlalu tebal, sunrise and sunset tidak akan mungkin bisa kita nikmati.

May be next time…….

Ya ya ya……… next time……

SEBUAH PROSES ITU PERLU

Monday, January 11, 2010


Kenapa ya belakangan ini sebuah ‘proses’ seperti mulai tidak dihargai. Orang maunya yang serba instant. Ga peduli harus mengeluarkan berapa duit untuk itu. Padahal ‘proses’ itu perlu. Sebuah sarana untuk bertumbuh. Melalui proses, seseorang memperoleh pengalaman dan pelajaran berharga sebagai bekal hidup di masa yang akan datang.

Orangtua zaman sekarang, penginnya menyekolahkan anaknya sejak usia dini, biar bisa hemat umur. Umur 2 th sudah dimasukkan Pra-TK, umur 4 th sudah TK, dan kalau bisa umur 5-6 th sudah kls 1 SD, dengan alasan toh anaknya bisa mengikuti. Untuk anak2 tertentu yang memang memiliki kelebihan, dgn IQ di atas rata2, mungkin ini tidak menjadi soal. Tapi yang akan menjadi persoalan di kemudian hari, perkembangan kejiwaan si anak tersebut. Seorang anak yang belum cukup umur dipaksa mengikuti pola pikir anak2 yang jauh di atas usianya, memaksa seorang anak untuk tumbuh dewasa sebelum waktunya. Dari beberapa pengalaman, ada beberapa anak yang menjadi minder coz suka dianggap masih kecil oleh2 teman2 mainnya, ada yg cengeng gampang merajuk dan kurang mandiri. Ini coz si anak selalu dianggap masih kecil jadi kepercayaan dirinya kurang.

Demikian juga di tingkat mahasiswa. Tak bisa dipungkiri budaya membeli nilai dan skripsi itu memang benar terjadi. Ada beberapa tenaga pendidik yang melegalkan hal ini coz mereka akan mendapat keuntungan financial dengan cara yang gampang. Maunya asal cepat lulus dengan nilai bagus tanpa susah2 belajar, ujian, penelitian, lembur bikin skripsi. Dengan ongkang2 kaki, bisa wisuda dengan IPK di atas 3. Dan herannya juga orangtua si anak mendukung dan bersedia membayar berapa pun asal anaknya bisa cepat lulus. Begitu juga nanti saat mencari pekerjaan. Demi amannya menghindari persaingan sehat, memilih mengandalkan koneksi dan main suap, tidak peduli harus mengeluarkan berpuluh-puluh jut. Bisa dipastikan ini juga yang memicu KKN. Pengin segera balik modal atas dana besar yang telah mereka keluarkan, tidak segan2 mereka menghalalkan segala cara. Cikal bakal korupsi yang memang sudah merajalela.

Wah jika seperti ini, jika yang serba instant ini dimungkinkan, bisa dipastikan hal ini akan terjadi turun-temurun sampai ke generasi berikut. Wah……akan jadi apa generasi penerus nanti.

Proses tidak lagi dihargai dan tidak tau lagi apa itu ‘berjuang’. Klo seperti ini caranya buat apa sekolah, sebuah dapur yang katanya untuk menggodog seseorang menjadi dewasa hingga layak terjun di masyarakat.

Semua ada masanya. Masa untuk bermain, masa untuk belajar, masa untuk bersosialisasi, masa untuk tumbuh dan berkembang, menjadi dewasa dan mandiri yang artinya siap terjun ke dunia luar, dan akhirnya mengalami masa tua dengan lebih banyak refleksi dan berserah diri pada-Nya. Biarkan seorang anak tetap berada di jalurnya, jangan merampas haknya untuk menikmati masa2 pertumbuhannya. Fase2 yang dilewatinya itu nantinya akan menjadi pengalaman dan kenangan berharga baginya.

Yah, tapi aku yakin, masih ada banyak orang yang menghargai apa itu ‘proses’ dan mau terjun langsung di dalamnya. Semoga di masa yang akan datang, ‘proses’ itu akan lebih dihargai demi lahirnya bibit2 unggul yang akan memajukan bangsa.

PENGIN DAPAT KIRIMAN SURAT VIA POS LAGIIIIIIIIIII………………

Monday, January 11, 2010


Sudah lama banget ga terima surat lewat pos lagi. Surat dari om-ku, dari teman2ku ataupun kartu Natal, kartu Lebaran dan kartu Paskah. Pengin dapet lagi………

Rasanya senang banget tiap Pak Pos datang nganter surat, atau tiap dikasih tau oleh Tata Usaha klo dapat surat lewat sekolah. Atau mmmmmm…… kiriman paket dari om-ku yang dulu biasa dikirimkannya ke alamat sekolah, surprised packet…. ^_^

Memang di zaman yang sudah serba canggih ini, era digital, semua serba instant, mengirim surat via pos dirasa ribet n banyak menyita waktu. Tinggal kirim sms, telepon ke HP, pesan bisa langsung diterima penerima tanpa perantara bahkan langsung dengar suaranya.

Rasanya lebih berkesan terima surat via pos. Buru2 menyobek amplop surat pengin segera baca isinya. Tulisan tangan yang penuh kehangatan. Biarpun komunikasi jarang banget, tapi surat2 itu begitu ditunggu-tunggu. Seneng banget rasanya ketika balasan suratku datang. Dan tak ketinggalan perangko menjadi koleksiku waktu itu.

Om-ku yg di Jakarta. Dia yang dulu paling sering menulis surat untukku. Dan yang paling membuatku senang kadang2 surat datang berikut kiriman buku2 cerita. Aku ga akan pernah lupa. Makasih om. Om-ku yang penuh perhatian, semoga Tuhan selalu menjagamu.

Pernah suatu ketika aku n om-ku saling menantang tulis surat pakai aksara Jawa - hanacaraka, datasawala, padhajayanya, magabathanga. Akhirnya kutulis surat yg lumayan panjang ke Om-ku, dgn susah payah pake aksara Jawa. Waktu itu aku masih SMP. Dan surat itu tidak pernah berbalas. Aku ragu, sepertinya surat itu tidak pernah dibaca om-ku. Barangkali dia teramat susah untuk membaca dan mengartikan aksara Jawa, tapi terlalu gengsi untuk mengaku ke keponakannya. Hehehehe…..

Tiap Natal, aku n teman2ku juga adikku selalu berlomba-lomba siapa yang paling banyak dapat kiriman kartu Natal. Kartu Natal yg banyak dgn gambar yang unik, indah ataupun lucu selalu dibawa ke sekolah dipamerkan ke teman2. Apalagi kartu Natal yang didesain indah, bertumpuk-tumpuk, bisa berdiri plus bisa nyanyi, itu sungguh asset berharga yang wajib dipamerkan ke teman2 n pasti bakal bikin ngiri bagi yang melihatnya……… ~_^

Sejak zaman menjadi begitu canggih, budaya kirim kartu ucapan dan kirim surat pun pelan2 menghilang. Dengan menelepon langsung ke HP, kirim message via sms, email ataupun jejaring sosial, dirasa lebih praktis, lebih murah, dan lebih aman. Yah, kadangkala ada sebuah kerinduan. Perjuangan hingga ada sebuah surat di tangan kita itu yang amat kita rindukan. Sebuah proses yang berbelit-belit tapi sarat dengan perhatian dan kepedulian.

Pengin dapet surat lagi………

Maksa siapa ya suruh kirim surat dengan tulisan tangan yang panjang ke aku………

Wish wish wish I wish……

EMBRACED BY THE LIGHT

Saturday, January 09, 2010

Pertengahan minggu ini, ketika sedang input data buku2 lama sumbangan dari donatur untuk bahan referensi anak, ada beberapa buku yang menarik perhatianku. Kusisihkan beberapa buku, mau numpang baca dulu sebelum buku2 itu diserahkan ke yang lebih berhak.

Salah satu buku ‘Embraced by The Light’ tentang pengalaman spiritual Betty J. Eadie yang pernah 2 kali mengalami kematian. Buku ini published th.1996. Duh, ke mana aja aku selama ini kok baru sekarang membaca buku ini.

Dari dulu aku memang suka membaca atau mendengarkan cerita tentang kehidupan setelah kematian, mati suri dll. Selalu pengin tahu.

Kisah di ‘Embraced by The Light; ditulis ringkas tapi menurutku amat berbobot. Bahasanya sederhana sehingga mudah dipahami, tidak seperti buku sebelumnya yang kubaca ‘Surga Itu Nyata’ buah karya Choo Thomas, yang menurutku lebih rumit.

Aku percaya bahwa memang benar2 ada kehidupan setelah kematian, dunia roh. Tapi aku masih belum tahu bahwa ada kehidupan roh2 sebelum kelahiran. Dunia roh yang penuh kedamaian. Dan masa hidup di dunia adalah masa pembelajaran bagi roh2, menimba ilmu, bertumbuh di dunia demi kematangan roh2.

Membaca buku ini membuatku tidak takut lagi menghadapi kematian, tidak khawatir lagi akan masa depanku. Semua sudah diatur dengan amat baik oleh-Nya. Semua dosa2 kita adalah sarana pembelajaran kita untuk bertumbuh. Semua pengalaman pahit kita juga adalah pengalaman berharga buat kita untuk mematangkan jiwa kita.

Dan Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita sendirian. Dia akan menjawab semua doa2 kita, hanya Dia menunggu saat yang tepat.

Aku juga jadi tahu, saat kita kehilangan seseorang yang amat kita cintai karena dipanggil kembali oleh-Nya, itu karena masa belajarnya di dunia sudah selesai, misinya diutus di dunia sudah terpenuhi. Dia akan memiliki kehidupan lain yang jauh lebih baik dan suatu saat kita akan berkumpul lagi sebagai saudara.

Dan ketika seseorang berada di ambang kritis kematian, jangan mendoakan mohon kesembuhan baginya, tetapi biarlah kehendak-Nya yang terjadi, karena kita tidak tahu apakah saat dia harus kembali itu sudah tiba atau belum. Jika memang sudah saatnya untuk kembali, doa kita yang memohonnya untuk tetap tinggal akan menghambat proses transisinya ke dunia roh.

Yah, semua kuasa ilahi. Tapi aku percaya, Dia memang mengutusku ke dunia untuk suatu misi yang aku tidak tahu apakah itu. Aku akan berusaha menjalani hari2ku dengan penuh syukur dan memasrahkan semua pada kehendak-Nya. Ya, Dia yang akan mengatur untukku, dan semuanya akan indah pada waktunya.

Jadi pengin memiliki buku ini. Pengin beli beberapa. Ayah-ibu harus membaca buku ini juga. Moga2 aku masih bisa mendapatkannya. Hayu….. hunting… hunting……

21 GUNS - GREEN DAY

Do you know what’s worth fighting for?

When it’s not worth dying for?

Does it take your breath away

And you feel yourself suffocating?

Does the pain weigh out the pride?

And you look for a place to hide?

Did someone break your heart inside?

You’re in ruins

One, 21 guns

Lay down your arms, give up the fight

One, 21 guns

Throw up your arms into the sky, you and I

When you’re at the end of the road

And you lost all sense of control

And your thoughts have taken their toll

When your mind breaks the spirit of your soul

Your faith walks on broken glass

And the hangover doesn’t pass

Nothing’s ever built to last

You’re in ruins

One, 21 guns

Lay down your arms, give up the fight

One, 21 guns

Throw up your arms into the sky, you and I

Did you try to live on your own

When you burned down the house and home?

Did you stand too close to the fire

Like a liar looking for forgiveness from a stone?

When it’s time to live and let die

And you can’t get another try

Something inside this heart has died

You’re in ruins

One, 21 guns

Lay down your arms, give up the fight

One, 21 guns

Throw up your arms into the sky

One, 21 guns

Lay down your arms, give up the fight

One, 21 guns

Throw up your arms into the sky, you and I

I BELONG TO YOU - MUSE

When these pillars get pulled down

It will be you who wears the crown

And I’ll owe everything to you

How much pain has cracked your soul?

How much love would make you whole?

You’re my guiding lightning strike

I can’t find the words to say

They’re overdue

I’ve traveled half the world to say

I belong to you

Then she attacks me like a Leo

When my heart is split like Rio

But I assure you my debts are real

I can’t find the words to say

When I’m confused

I traveled half the world to say

You are my mu

Ah, responds, responds a ma tendresse

Vers-moi, verse-moi I’ivresse

Reponds a ma tendresse

Reponds a ma tendresse

Ahh, verse-moi I’ivresse

Verse-moi, verse-moi I’ivresse

Reponds a ma tendresse

Reponds a ma tendresse

Ahh, verse-moi I’ivresse

I belong, I belong to you alone

I can’t find the words to say

They’re overdue

Traveled half the world to say

I belong to you

POSSIBILITY - LYKKE LI

There’s a possibility

There’s a possibility

All that I had was all I’m gonna get

Mmmmmmmmmmmmm

All I wanted is gone with your stare

All I wanted is gone with your stare

So tell me when you hear my stop

You’re the only one that knows

Tell me when you hear my silence

There’s a possibility I wouldn’t know

Mmmmmmmmmmmmmm

Know that when you leave

Know that when you leave

By blood about me you walk like a thief

By blood about me I fall when you leave

So tell me when you hear my heart stop

You’re the only one that knows

Tell me when you hear my silence

There’s a possibility I wouldn’t know

So tell me when my sigh is over

You’re the reason why I’m closed

Tell me when you hear me falling

There’s a possibility it wouldn’t show

Mmmmmmmmmmmmmm

Know that when you leave

Know that when you leave

By blood about me I fall when you leave

By blood about me I follow your lead

Mmmmmmmmmmmmmmm

SING FOR ABSOLUTION - MUSE

Lips are turning blue

A kiss that can’t renew

I only dream of you

My beautiful

Tiptoe to your room

a starlight in the gloom

I only dream of you

And you never knew

Sing for absolution

I will be singing

Falling from your grace

There’s nowhere left to hide

In no one to confide

The truth runs deep inside

And will never die

Lips are turning blue

A kiss that can’t renew

I only dream of you

My beautiful

Sing for absolution

I will be singing

Falling from your grace

Sing for absolution

I will be singing

Falling from your grace

Our wrongs remain unrectified

And our souls won’t be exhumed