Monday, November 1, 2010

GOA PAYAMAN, MENELUSURI JEJAK MASA KECILKU.....

Tuesday, September 17 & October 31, 2010

Goa Payaman merupakan tempat hiking terdekat n favorit di daerahku. Favorit? Kenapa?
Menjadi tempat hiking favorit hanya di saat musim buah duwet saja. Buah kecil2 berwarna hitam yang tumbuh liar di sana. Menjadi buruan anak2 muda yang lagi pengin refreshing murah meriah.

Goa Payaman ini terletak di bukit yang memanjang di dekat rumahku. Dari rumahku pun terlihat begitu jelas karena memang letaknya dekat sekali, tinggal berjalan sekitar 100m hanya dibatasi oleh sebuah sungai. Sejak kecil aku sudah amat hafal dengan goa itu berikut cerita2 yang berkembang. Konon kata dulu pernah menjadi tempat persembunyian Pangeran Diponegoro semasa perang gerilya. Goa ini ga terlalu luas. Boleh dibilang kecil. Tapi paling tidak lumayanlah buat tempat berlindung bagi 10-15 orang waktu hujan.


Mendaki puluhan anak tangga yang lumayan bikin ngos2an


Jalan menuju goa yang didominasi oleh batu cadas.


Jalan alternatif yang bisa dilalui kendaraan bermotor.

Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun yang sampai sekarang aku belum pernah membuktikan kebenarannya, katanya goa Payaman sebenarnya ada dua, goa lanang dan goa wedhok (goa cowok dan goa cewek).Goa wedhok merupakan goa yang biasa kita datangi. Goa lanang aku tidak tahu tempatnya di mana tapi katanya memang tidak boleh dimasuki coz berbahaya. Goanya tidak setinggi goa wedhok tapi katanya goa ini amat dalam dan bercabang-cabang, tembus mpe Laut Selatan. Sengaja ditutup karena sangat berbahaya.


Goa Payaman

Sekarang2 ini, goa Payaman sedang dalam proses dikembangkan menjadi salah satu obyek wisata. Apalagi untuk mencapai tempat ini, harus melewati talang, semacam jembatan gantung peninggalan Belanda yang umurnya sudah puluhan tahun atau bahkan dah mencapai seratus tahun, aku tidak tahu persisnya.
Jembatan ini disebut ‘talang’ karena memang sekaligus sebagai saluran air, sarana irigasi bagi lahan pertanian di seberang bukit yang membutuhkan pengairan.
Seperti peninggalan2 Belanda lainnya yang tak diragukan kualitasnya, jembatan ini masih tampak kokoh mpe sekarang. Jembatan ini menghubungkan daerahku dengan bukit di seberang sungai yang memang sungainya sangat dalam dan curam dengan banyak batu2 besar dengan aliran air yang deras. Jika kita melewati jembatan ini, kita akan meniti dack2 kayu yang dibawahnya ada aliran air, jadi semacam parit yang menyeberangi sungai. Great idea!


Talang


Tak melewatkan untuk sejenak berfoto.... ^_^

Dulu waktu kecil, aku suka rada takut jika harus melewati jembatan ini. Rasanya tinggi banget. Klo jalan jembatan serasa bergoyang-goyang dengan bunyi derak kayu yang terdengar begitu kentara. Sungguh spoky klo malam sudah menjelang, apalagi tempat ini belum ada penerangan sama sekali.

Liburan Lebaran kemarin, aku menyempatkan diri melongok sejenak jejak masa kecilku ini. Jembatan yang tadinya begitu tinggi, sekarang jadi tidak tinggi lagi, kepalaku hampir sundul (menyentuh bagian atas jembatan). Masih terasa serem. Apalagi aku nekad ke sana menjelang maghrib. Untunglah ada 2 teman yang bersedia menemaniku yang tidak tahu seputar cerita2 mistik yang beredar di sana dan baru kuceritakan setelah kita mpe rumah dengan selamat. Hihihihi......


Langit mulai memerah. Saatnya pulang....

Benar seperti yang kubaca beberapa bulan lalu di internet. Bukit ini sekarang tampak lebih hijau, berkat perjuangan seorang Bapak (Bapak Bardi) yang berhasil menghijaukan kawasan ini dan memperoleh penghargaan kalpataru. Dulu dari bukit ini bisa dengan leluasa memandang lepas ke bawah, ke hamparan sawah2 dan pemukiman penduduk nun jauh di sana sambil menikmati sunset. Sekarang tidak bisa seperti dulu. Pandangan tertutup oleh pohon2 yang semakin banyak. Cuma aku jadi sedikit berandai-andai. Andai penghijauan ini dengan menanam banyak pohon duwet, beraneka varietas duwet, seperti duwet genthong, duwet kerikil, duwet putih, pasti akan seru. Wisata Payaman identik dengan wisata duwet. Hehe pasti seru.


Sekarang semua didominasi oleh hijau dan hijau.
Harus rela kehilangan kesempatan menikmati sunset.


Jadi inget, dulu waktu kecil aku sering mendaki bukit ini. Bukan ke goa Payaman-nya, tapi aku lebih sering mencari duwet n rempeni. Ini kulakukan bersama teman2 mainku yang dulu kebanyakan cowok. Menyeberang sungai rame2, mencari buah duwet jika sedang musim buah duwet. Di sepanjang jalan yang dilewati, kita tak lupa sambil mencari janur n then menganyamnya menjadi ketupat untuk wadah duwet kita. Makan duwet langsung di tempat, biarpun rasanya sepet, tapi sungguh menyenangkan. Jika sudah puas makan di tempat alias nangkring di atas pohon, kita lanjut mengisi ketupat penuh2 dengan duwet n then go home. Duwet dimakan di rumah dengan dilumuri garam biar lebih manis. Alhasil gigi n lidah kita akan jadi biru ungu semua. Huehuehuehue......

Mpe sekarang aku juga ga tahu, sebenarnya yang dulu kita lalukan ini mencari atau mencuri ya coz aku juga tidak yakin benar apa memang duwet2 ini tumbuh liar atau ada yang menanam. Masih kuingat dengan jelas, dulu tiap kita mencari duwet, kita juga merasa tidak tenang. Jika terlihat ada orang datang, kita segera lari. ‘Sing duwe teka! Sing duwe teka!’ (‘Yang punya datang! Yang punya datang!’). Terkadang kita mpe jatuh coz saat lari tersandung batu. Xixixxixi seruuuu.......

Buah rempeni.
Rempeni ini dulu bisa didapatkan di area seberang sungai, di bukit bagian bawah. Rempeni ini kita gunakan untuk maen bedil2an alias tembak2an sebagai ganti peluru. Rempeni kita masukkan ke dalam sebatang bambu kecil yang sudah dihilangkan ruas2 dalamnya kemudian kita dorong dengan sebatang kayu. Huwwwffhh klo mpe kena bidikannya, rasanya sakit pluz harus siap2 basah kena getah rempeni. Baunya wangi. Tapi tergantung juga yang membidik siapa. Klo aku yang membidik, klo kena rasanya mungkin cuma kaya dikitik-kitik coz aku tidak punya tenaga cukup kuat seperti anak2 cowok. Klo anak2 cowok yang membidik, aku lebih memilih ngumpet di sela2 batang pohon. Klo kena, kulit bakal memerah mpe lama. Rasanya pedas, perih. Huwwwwfhhh....

Terkadang dulu aku suka ikut omku yang memang hobi naik turun bukit. Hiking bersama Jenggo anjing kesayangan kami yang penurut. Selalu ikut ke mana pun omku pergi. Tidak peduli jika harus menyeberang sungai sekalipun. Ya Jenggo tidak takut air. Dia pintar menyeberang sungai.
Berangkat dari rumah sekitar jam 4-5 sore. Berjalan beriringan sekitar 4-5 orang diikuti paling belakang oleh Jenggo. Perjalanan yang panjang. Cape, peluh bercucuran. Tidak tahu sebenarnya ke mana omku ini ingin pergi. Terus saja mengikuti langkahnya tanpa berani bertanya sebenarnya mau ke mana. Jangan harap klo pergi ma omku kita akan mencari buah duwet. Tidak. Sekali pun aku belum pernah diajak omku ini berburu duwet.

Akhirnya ketika langit di ufuk barat mulai kemerahan, sampailah kita di puncak bukit sebelah utara. Barulah omku berhenti. Di sebuah kuburan. Ngapain pake acara berhenti di kuburan. Hiiiiii....... sereeemmm.....
Sebenarnya aku takut. Kenapa musti berlama-lama di sini. Tapi belakangan aku tahu. Pemandangan di bawah bagus banget. Tak ada sesuatu pun yang menghalangi pandangan kita. Sawah terhampar menghijau dengan pemukiman penduduk tampak di sana sini. Jalan raya Jogja-Wates dengan truk2 dan bus2 besar yang sedang melintas pun terlihat di kejauhan. Tangan kita tak henti2 menunjuk ke kejauhan. Itu Pertamina Rewulu.... Itu Universitas Wangsa Manggala.... Itu kantor Polisi.... Itu rel kereta. Eh ada kereta lewat. Ya akhirnya kita mulai bisa menikmati puncak perjalanan kita dan berangsur-angsur rasa takut menghilang.

Omku mengambil sebuah batu dan menunjukkan padaku. ‘Ini batu bintang.’ Baru tahu. Bongkahan batu2 kecil berwarna putih yang jika saling digosokkan akan tampak berkilauan. Yeaaah..... akhirnya pulang dengan mengantongi beberapa bongkah batu bintang.

Tak berapa lama pemukiman di bawah sudah mulai menyalakan lampunya. Terlihat kerlap-kerlip di bawah sana. Ya, sudah saatnya pulang. Merinding kembali menyergap. Yang terdengar suara2 binatang malam yang saling bersahut-sahutan memperdengarkan suaranya. Bener2 serem. Apalagi di bukit itu sama sekali belum ada penerangan.
Menuruni bukit pelan2 dengan diterangi cahaya senter. Berjalan ke arah perumahan di bawah bukit yang sudah ada penerangan listrik.

Yaaaaaa...... masa2 menyenangkan yang dulu pernah kulewati. Yang aku tidak tahu apakah bisa kualami lagi.
Paling tidak aku pernah punya pengalaman masa kecil yang demikian menyenangkan.
Yayaya...... masa2 yang tidak akan pernah bisa kulupakan.....

*****
Sedikit pengin berbagi kisah Bapak Bardi setelah memperoleh penghargaan kalpataru, Beliau tetap gigih berjuang tanpa pamrih sebagai pahlawan lingkungan hidup. Salut dengan Bapak satu ini. Berikut kisahnya....

8 comments:

Anonymous said...

mantappp ,,,distu saya juga dilahirkan 27 tahun yang lalu...di dusun pereng kulan(kepuhan)

Anonymous said...

pereng kulon,,,,guwo polaman,,,,kata orang jg diannggap sebagai taman jodoh,,disitu jg tanah kelahiran ku jga

Anonymous said...

abdul malik

Silber Nomade said...

sekarang ada blognya juga
goapayaman.wordpress.com

Latifa_Sulistiaji said...

wah,mb retno,salam kenal,mbak..nemu blognya mb pas lg iseng2 nyari goa payaman,. Lha mb retno rumahnya mana to? Aku jga dket payaman lho,mbak.. Rumah e timurnya pak cipto,mbrongkol,mb..
Aku tifa mb,tpi nek nang kampung panggilanne dwi.. Lam kenal ya,n silahkan mampir ke blogku,pandamanda0204.blogspot.com..

Red-Now said...

Wah maaf. Saya br sempet mampir ke blog sendiri. Makasih atas kunjungannya.
Ternyata banyak yg pd punya kenangan manis dgn goa payaman ya.

@silber nomade: thx infonya. Seneng skrg goa payaman sdh mulai dikenal n mulai bnyk pengunjung.
@latifa: salam kenal jg mbak.Ak mbrongkol msh ke utara lg mbak. 2 km ke selatan p4an sdy, yg ada perumahannya itu.
Tp dah 9 th ini aku ngungsi ke bdg mbak. Ke yk klo pas liburan aj.

rumputilalang said...

kayaknya menarik untuk dijelajah

Red-Now said...

@rumputilalang: selamat mencoba berpetualang di sana. Klo pas musim buah duwet aja. Jangan lupa bawa kupat janur ya. hehehe....