Thursday, May 6, 2010
Sunday, January 24, 2010
TOUR DE SEMARANG, EVENTHOUGH JUST SHORT IN TIME
Sebuah
Tata kotanya jauh lebih menyenangkan daripada
Hari minggu malam sekitar pk.22.00 WIB baru melaju dari Yogya, demi menunggu si Nick yang baru kelar rapat mudika. Ya, dia pengin banget ikut, setelah tidak bisa ikut melewatkan hari2 yang menyenangkan di Dieng. Malam yang dingin setelah sepanjang siang Yogya diguyur hujan angin. Kita menuju Ambarawa, ke Kerep. Ya. Aku dah lama banget pengin ziarah ke Kerep. Sampai Kerep pk.01.00 dini hari. Aku benar2 mengantuk. Tadinya aku ga mau kut turun untuk makan, tapi Dhex terus memaksaku untuk turun makan. Akhirnya aku menyusul mereka dan aku tidak menyesal. Kulihat
Doa yang paling baik katanya pk.03.00 pagi. Akhirnya aku menuju tempat doa pk.03.00 pagi. Suasana terasa adem dan hening. Sungguh damai berdoa dalam suasana seperti ini.
Goa Kerep - Ambarawa
Setelah doa, Dhex mengajakku ke Taman Kerep yang katanya bagus banget. Lampu2 sudah dimatikan. Yang terlihat hanya gelap dan gelap. Berjalan tertatih-tatih menyusuri jalan setapak hanya disinari cahaya dari HP-ku. Hiiiiiiiiii…. Spoky banget. Beberapa kali aku terpeleset tapi ga sampai jatuh coz sandal plastikku memang terlalu licin untuk berjalan di bebatuan. Mana di salah satu tempat rada2 bau kembang. Untung ga ketemu yg aneh2. Sepertinya tamannya memang bagus. Someday kalau ke Kerep lagi harus pas siang hari, biar bisa lihat tamannya yang katanya bagus banget itu.erep lagi wajib coba.
Pk.04.55 kita dah nyampe di
Pk.10.00 WIB Tour de Semarang kita dimulai. Dengan rute jalan yang hanya Week yang tahu dengan bantuan Dhex as navigator by phone. Week pernah 1 tahun kerja di
Pertama kita ke kelenteng Sam Poo Kong. Serba merah. Buat foto berasa di Cina. Yayaya Cina wannabe.
Kata Sodo, kita bisa minta diramal di
Bio Kong-nya cuma mau meramal yang sudah bekerja saja, si Nick yang masih kuliah belum boleh diramal.
Diawali dengan doa, akhirnya keluarlah angka buatku n Week. Dan herannya Bio Kong-nya tanpa pernah kami beritahu, tahu kalau aku tiap hari bergelut dengan pembukuan dan Week dengan computer. Hebat juga Bio Kong yang super duper bodor ini.
Sebenarnya Bio Kong ini tidak memasang tarif, sukarela aja yang minta diramal memberikan amplop seikhlasnya.
Dari Sam Poo Kong, kita mampir ke gereja Kathedral untuk berdoa. Katanya jika kita berdoa di gereja yang belum pernah kita masuki, 3 permohonan kita akan dikabulkan. Soooooo…… Don’t miss it.
Lanjut makan siang dulu ke Manggala CafĂ©. Pilihan menunya amat banyak, bikin bingung. Belum lagi pelayan2nya yang merubung kita dengan banyak daftar menu di tangannya. Bener2 ribut. Dan hasilnya ada 6 gelas minuman buat kita yang cuma bertiga. Haiyaaaaa………ini nanti yang bertanggung jawab ngabisin siapa……………… Kacau bener.
The next destination is Lawang Sewu. Bangunannya tepat di seberang Tugu Muda Semarang. Lumayan banyak pengunjung hari itu dan udara amat sangat panas mpe bikin keringat bercucuran. Di area depan ada lokomotif kereta kuno berkepala merah. Lumayan buat berfoto.
Dengan membayar @Rp.5.000,- kita bebas buat membuktikan apa benar pintunya memang ada seribu. Hehehehe….
Siang2 sudah terasa spoky banget, apalagi malam hari. Dan ruang bawah tanahnya……. Hiiiiiiiiiiii……………
Week n Nick ga mau masuk ke ruang bawah tanah. Dan aku beberapa kali di-warning ma Nick ga boleh macam2 apalagi berpose foto pura2 jadi hantu. Katanya typical penunggu di
Mampir bentar ke Bandeng Juwana, cari oleh2 dan beliin bandeng titipan temanku. Ngantree-nya banged nged. Dan aku kehabisan bandeng, cuma kebagian 1 biji bandeng vacuum. Ya maaf, ini titipan aja, yang lain jadinya tidak kebagian. Week beli kue moci dan ga ketinggalan kita menenteng wingko buat oleh2. Wingko yang terkenal di
Lumayan cape coz udara yang amat panas. Kita back to hotel untuk mandi and then check out pk.17.00. Lanjut de last tour keliling2 kawasan Kampung Laut, Taman Maerokoco, gedung PRPP (Pekan Raya Pameran Pembangunan) dan Pantai Marina. Sampai Pt. Marina sudah kemalaman, sudah pk.06.45. Tidak bisa lihat apa2 n tidak bisa berfoto. Tapi kita bisa dengar debur ombak, lihat kapal2 di kejauhan dan merasakan hembusan angin laut. Keknya klo siang bagus juga.
Kawasan Pantai Marina dikembangkan menjadi kawasan elite. Lumayan rame. Kawasan bisnis dengan tata bangunan
Pk. 19.30 beranjak meninggalkan kawasan Pt. Marina, kita hunting lumpia
Setelah hunting lumpia, kita masih sempet muter2 di
Akhirnya hari itu ngrasain naik kereta mundur. Dari Cikampek ke
Yayaya…. Tour de Semarang sudah usai.
Kapan2 lanjut lagi.
Belum sempet masuk ke Museum Maerokaca, ke Pt. Marina pas siang, Goa Kreo n belum puas muter2 di
WISATA PAYUNG KE DIENG
Sabtu, 26 Desember 2009, kita putusin mau jalan2 ke Dieng. Rencana mau berangkat pk.06.00 pagi dan tidak usah heran seperti biasa molor…… jadilah baru keluar dari pekarangan rumah pk. 07.20 WIB. Berangkat tanpa Nick yg lg sibuk dgn kegiatan Natal (dia jadi Ketua Panitia Natalan Lingkungan euy) n Ndra yg lg liburan keluarga ke Bali dan juga Selly yg membatalkan ikut 1 hari sebelumnya coz familinya pada datang.
Seperti biasa mom yang selalu care ke anak2nya n selalu mengajarkan pola hidup hemat, membekali kami dgn banyak makanan. Tak ketinggalan nasi bungkus, sega pondoh dan bacem tahu-tempe untuk makan siang kami.
‘Pergi dulu ya dedeku cayank! Baik2 ya di rumah,’ sembari melambaikan tangan ke Nick yg sebenarnya pengin banget ikut. Hehehehe kasihan sekali kau adekku………. ~_^
Lalu lintas di Magelang cukup padat, so kita gambling lewat jalur alternative yg sebenarnya tidak terlalu yakin benar. Akhirnya setelah 1x tanya, pk.12.00 kita sudah memasuki kawasan Dieng. Pertama yang kita tuju Agrowisata Tambi, kawasan perkebunan teh yang luas, berikut ada pabrik di dalamnya. Kita cuma muter2 aja, katanya klo mau masuk ke sana harus speak2 dulu ma penjaga di sana bilang mau penelitian..... hehehehehe
Kita langsung menuju ke Dieng. Dieng I’m coming........................
Memasuki Dieng yang kita lihat cuma putih dan putih. Kabut tebal menutup pandangan kita. ‘Duh...., sepertinya kita ke Dieng di saat yang tidak tepat,’ keluh kami.
Di bagian ticketing, kita bayar perkepala Rp.16.000,- itu sudah include semua lokasi, kecuali di Telaga Warna kita nanti masih harus nambah Rp.2.000,- lagi per orang.
Pertama kita muter2 ke area PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), kawasan Dipo Geo Energi. Bau menyengat belerang di mana2. Tadinya kita terpikir pengin ke bawah ke area pusat PLTU, tapi musti lapor dulu ke petugas. Sejak ada korban pingsan ga tahan dengan bau belerang, kawasan itu ditutup untuk umum, harus dengan izin khusus untuk bisa memasuki area itu. Akhirnya kita puas2in cukup dengan hanya berfoto-foto saja di sana.
Kita lanjut ke kawah Sikidang. Kawah yang tidak henti2nya mengeluarkan uap panas. Bau belerang di mana2. Dan kita mengalami hujan yang cukup deras di sana, akhirnya kita berteduh di salah satu gazebo. Dari gazebo kita lihat pemandangan yang memacu adrenalin dibumbui kenekadan yg amat sangat. Dalam kondisi hujan dan tanah yang licin, ada 3 pengendara sepeda motor yang meluncur turun dari puncak bukit meluncur ke bawah ke arah kawah.
Bernyali juga ni orang. Tergelincir sedikit saja tamat riwayatnya masuk ke kawah yang airnya terus bergolak, ga tau berapa derajat Celcius suhunya. Dan untungnya tidak terjadi hal2 yang dikhawatirkan, justru aku yg deg2an takut ada yang tergelincir dan jatuh.
Hujan ternyata menyelamatkan kita. Beruntung hari itu hujan turun. Hujan berhasil menghalau kabut pergi. Akhirnya pemandangan apik Dieng bisa kita nikmati dengan berpayung ria. Ke mana2 pake payung.
Candi Gatotkaca dan candi Bima kita nikmati dari kejauhan. Tidak memungkinkan untuk turun coz hujan yang amat deras. Kita terus menuju ke kawasan Candi yang paling luas. Kompleks candi Arjuna dkk.
Hujan tinggal rintik2 kita menyusuri candi dengan payung yang tak pernah lepas dari tangan kita.
Whuuiiiiiiih............. Pemandangan yang amat menawan. 5 buah candi berlatar pegunungan menghijau.
Kyaaaaa........ cantik banget.
Memasuki kawasan ini, pertama kali kita jumpai candi Arjuna dan candi Semar di depannya. Di bagian tengah, Candi Puntadewa yang diapit oleh candi Srikandi dan candi Sembadra.
Kalau di cerita pewayangan, tentang Pandawa lima, Puntadewa adalah sang raja Amarta beristrikan Dewi Srikandi dan Dewi Sembadra. Arjuna adalah satria yang paling tampan dan jago memanah di antara satria Pandawa yang lain. Dia paling bungsu. Dan Semar adalah pengasuh mereka, titisan Batara Guru.
Konon ada mitos, barangsiapa yang pengin segera dapat jodoh, silakan berjalan mengelilingi candi ini sembari make a wish. Tapi tidak jelas candi yang mana. Ada yg bilang untuk cowok mengelilingi candi Arjuna, dan untuk cewek mengelilingi candi Srikandi. Berapa kali? Tidak jelas juga.
Karena rasa ingin tahu yang besar, akhirnya kusamperin rombongan pengamen yg sedang menyanyi dengan riangnya. Aku cuma niat nanya ke satu orang, eh malah satu rombongan berhenti nyanyi semua, pada ikut2an menjawab pertanyaanku. Hehehehe.......
Mereka bilang mitos itu memang ada tapi di candi Dwarawati. Candi ini lumayan jauh letaknya, terpisah dari kawasan wisata lain yang letaknya berdekatan, ada di perkampungan penduduk, jadi jarang dikunjungi orang. Berapa kali harus mengelilingi candi? Mereka juga tidak tahu. ‘Terserah mau 3x atau 7x. Tanya aja ke juru kuncinya mbak’. Hehehehehe........
Keluar dari kompleks kita melewati semacam reruntuhan bangunan, ‘Dharma sala’, Dulunya berfungsi sebagai tempat persiapan upacara dan menaruh perlengkapan upacara keagamaan umat Hindhu.
The last destination, kita ke Telaga Warna. Kupikir tadinya bakal lihat telaga dengan banyak warna kek pelangi, ternyata ga jauh beda dengan Kawah putih. Didominasi warna hijau dengan semburat kecoklatan di sana-sini. Di kawasan ini bisa kita lihat juga telaga pengilon (pengilon dalam bhs Jawa artinya cermin), yang waktu kutengok airnya keruh, sama sekali ga bisa buat bercermin, malahan banyak yang pada mancing di sana.
Ada juga gua Semar, gua Sumur dan gua Jaran. Semuanya tampak spokiiiiy.....dengan bau sesajen yang amat sangat. Goa2 ini dipagar untuk mengantisipasi supaya tidak ada pengunjung yang nekad masuk, konon berbahaya. Biasanya dijadikan tempat bersemadi buat mereka yang mencari wangsit.
Dan Dieng Plateau Theater, yang belum kesampean ke
Otw pulang, kabut kembali turun. Dan kita terpaksa jalan pelan2 mengekor mobil di depan coz bahaya banyak jurang di sepanjang jalan. Marka jalan benar2 berguna di saat2 seperti ini. Ga ketinggalan makan malam kita, mie ongklok. Makanan khas Wonosobo yang biasa dimakan dengan pelengkap sate ayam atau sate sapi. Kita pilih Resto Ongklok di Bima Plaza Lt.2 Jl. Dieng Km 1 Wonosobo, atas referensi Ndra. Resto yang penataannya apik dengan harga yang murah, sama sekali di luar perkiraan kita. Ga ketinggalan nyobain carica ice. Yummy…………
Dieng…. Oh Dieng…….
Ga menyangka ada kawasan yang begitu indah di tempat yang tersembunyi di balik pegunungan……………
Recommended to visit and to get home stay there.
Tadinya kepikir pengin bermalam demi mengejar sunrise di
May be next time…….
Ya ya ya……… next time……
SEBUAH PROSES ITU PERLU
Kenapa ya belakangan ini sebuah ‘proses’ seperti mulai tidak dihargai. Orang maunya yang serba instant. Ga peduli harus mengeluarkan berapa duit untuk itu. Padahal ‘proses’ itu perlu. Sebuah sarana untuk bertumbuh. Melalui proses, seseorang memperoleh pengalaman dan pelajaran berharga sebagai bekal hidup di masa yang akan datang.
Orangtua zaman sekarang, penginnya menyekolahkan anaknya sejak usia dini, biar bisa hemat umur. Umur 2 th sudah dimasukkan Pra-TK, umur 4 th sudah TK, dan kalau bisa umur 5-6 th sudah kls 1 SD, dengan alasan toh anaknya bisa mengikuti. Untuk anak2 tertentu yang memang memiliki kelebihan, dgn IQ di atas rata2, mungkin ini tidak menjadi soal. Tapi yang akan menjadi persoalan di kemudian hari, perkembangan kejiwaan si anak tersebut. Seorang anak yang belum cukup umur dipaksa mengikuti pola pikir anak2 yang jauh di atas usianya, memaksa seorang anak untuk tumbuh dewasa sebelum waktunya. Dari beberapa pengalaman, ada beberapa anak yang menjadi minder coz suka dianggap masih kecil oleh2 teman2 mainnya, ada yg cengeng gampang merajuk dan kurang mandiri. Ini coz si anak selalu dianggap masih kecil jadi kepercayaan dirinya kurang.
Demikian juga di tingkat mahasiswa. Tak bisa dipungkiri budaya membeli nilai dan skripsi itu memang benar terjadi.
Wah jika seperti ini, jika yang serba instant ini dimungkinkan, bisa dipastikan hal ini akan terjadi turun-temurun sampai ke generasi berikut. Wah……akan jadi apa generasi penerus nanti.
Proses tidak lagi dihargai dan tidak tau lagi apa itu ‘berjuang’. Klo seperti ini caranya buat apa sekolah, sebuah dapur yang katanya untuk menggodog seseorang menjadi dewasa hingga layak terjun di masyarakat.
Semua ada masanya. Masa untuk bermain, masa untuk belajar, masa untuk bersosialisasi, masa untuk tumbuh dan berkembang, menjadi dewasa dan mandiri yang artinya siap terjun ke dunia luar, dan akhirnya mengalami masa tua dengan lebih banyak refleksi dan berserah diri pada-Nya. Biarkan seorang anak tetap berada di jalurnya, jangan merampas haknya untuk menikmati masa2 pertumbuhannya. Fase2 yang dilewatinya itu nantinya akan menjadi pengalaman dan kenangan berharga baginya.
Yah, tapi aku yakin, masih ada banyak orang yang menghargai apa itu ‘proses’ dan mau terjun langsung di dalamnya. Semoga di masa yang akan datang, ‘proses’ itu akan lebih dihargai demi lahirnya bibit2 unggul yang akan memajukan bangsa.
PENGIN DAPAT KIRIMAN SURAT VIA POS LAGIIIIIIIIIII………………
Sudah lama banget ga terima
Rasanya senang banget tiap Pak Pos datang nganter
Memang di zaman yang sudah serba canggih ini, era digital, semua serba instant, mengirim
Rasanya lebih berkesan terima
Om-ku yg di
Pernah suatu ketika aku n om-ku saling menantang tulis
Tiap Natal, aku n teman2ku juga adikku selalu berlomba-lomba siapa yang paling banyak dapat kiriman kartu
Sejak zaman menjadi begitu canggih, budaya kirim kartu ucapan dan kirim
Pengin dapet
Maksa siapa ya suruh kirim
Wish wish wish I wish……
EMBRACED BY THE LIGHT
Pertengahan minggu ini, ketika sedang input data buku2 lama sumbangan dari donatur untuk bahan referensi anak, ada beberapa buku yang menarik perhatianku. Kusisihkan beberapa buku, mau numpang baca dulu sebelum buku2 itu diserahkan ke yang lebih berhak.
Salah satu buku ‘Embraced by The Light’ tentang pengalaman spiritual Betty J. Eadie yang pernah 2 kali mengalami kematian. Buku ini published th.1996. Duh, ke mana aja aku selama ini kok baru sekarang membaca buku ini.
Dari dulu aku memang suka membaca atau mendengarkan cerita tentang kehidupan setelah kematian, mati suri dll. Selalu pengin tahu.
Kisah di ‘Embraced by The Light; ditulis ringkas tapi menurutku amat berbobot. Bahasanya sederhana sehingga mudah dipahami, tidak seperti buku sebelumnya yang kubaca ‘Surga Itu Nyata’ buah karya Choo Thomas, yang menurutku lebih rumit.
Aku percaya bahwa memang benar2 ada kehidupan setelah kematian, dunia roh. Tapi aku masih belum tahu bahwa ada kehidupan roh2 sebelum kelahiran. Dunia roh yang penuh kedamaian. Dan masa hidup di dunia adalah masa pembelajaran bagi roh2, menimba ilmu, bertumbuh di dunia demi kematangan roh2.
Membaca buku ini membuatku tidak takut lagi menghadapi kematian, tidak khawatir lagi akan masa depanku. Semua sudah diatur dengan amat baik oleh-Nya. Semua dosa2 kita adalah sarana pembelajaran kita untuk bertumbuh. Semua pengalaman pahit kita juga adalah pengalaman berharga buat kita untuk mematangkan jiwa kita.
Dan Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita sendirian. Dia akan menjawab semua doa2 kita, hanya Dia menunggu saat yang tepat.
Aku juga jadi tahu, saat kita kehilangan seseorang yang amat kita cintai karena dipanggil kembali oleh-Nya, itu karena masa belajarnya di dunia sudah selesai, misinya diutus di dunia sudah terpenuhi. Dia akan memiliki kehidupan lain yang jauh lebih baik dan suatu saat kita akan berkumpul lagi sebagai saudara.
Dan ketika seseorang berada di ambang kritis kematian, jangan mendoakan mohon kesembuhan baginya, tetapi biarlah kehendak-Nya yang terjadi, karena kita tidak tahu apakah saat dia harus kembali itu sudah tiba atau belum. Jika memang sudah saatnya untuk kembali, doa kita yang memohonnya untuk tetap tinggal akan menghambat proses transisinya ke dunia roh.
Yah, semua kuasa ilahi. Tapi aku percaya, Dia memang mengutusku ke dunia untuk suatu misi yang aku tidak tahu apakah itu. Aku akan berusaha menjalani hari2ku dengan penuh syukur dan memasrahkan semua pada kehendak-Nya. Ya, Dia yang akan mengatur untukku, dan semuanya akan indah pada waktunya.
Jadi pengin memiliki buku ini. Pengin beli beberapa. Ayah-ibu harus membaca buku ini juga. Moga2 aku masih bisa mendapatkannya. Hayu….. hunting… hunting……
21 GUNS - GREEN DAY
When it’s not worth dying for?
Does it take your breath away
And you feel yourself suffocating?
Does the pain weigh out the pride?
And you look for a place to hide?
Did someone break your heart inside?
You’re in ruins
One, 21 guns
Lay down your arms, give up the fight
One, 21 guns
Throw up your arms into the sky, you and I
When you’re at the end of the road
And you lost all sense of control
And your thoughts have taken their toll
When your mind breaks the spirit of your soul
Your faith walks on broken glass
And the hangover doesn’t pass
Nothing’s ever built to last
You’re in ruins
One, 21 guns
Lay down your arms, give up the fight
One, 21 guns
Throw up your arms into the sky, you and I
Did you try to live on your own
When you burned down the house and home?
Did you stand too close to the fire
Like a liar looking for forgiveness from a stone?
When it’s time to live and let die
And you can’t get another try
Something inside this heart has died
You’re in ruins
One, 21 guns
Lay down your arms, give up the fight
One, 21 guns
Throw up your arms into the sky
One, 21 guns
Lay down your arms, give up the fight
One, 21 guns
Throw up your arms into the sky, you and I












