Saturday, January 8, 2011

COKLAT

Coklat. Aku suka coklat. Baik itu dark chocholate ataupun white chocholate. Yang polos ataupun yang ada variasi fruits ataupun nuts, aku semua suka. Biarpun kalau disuruh memilih aku lebih suka white chocholate, tapi semua varian coklat aku doyan. Ini tentang coklat batangan ya. Tapi aku ga suka coklat yang gampang lumer n suka nempel di gigi. So biar coklat lebih keras biasanya aku simpan dulu di kulkas.
Tapi untuk coklat berbentuk krim aku kurang suka. Enegh n terlalu legit di gigi. So, klo terpaksa ga ada pilihan lain baru aku mau makan roti berkrim coklat atau donut ber-topping coklat.

Sebenarnya dari hasil tes alergi dulu, aku alergi coklat. Tapi coz aku suka jadi ga bisa terus ga makan sama sekali. Makanya aku ga berani makan coklat banyak2. Biasanya sehari cuma berani makan maximal 4-5 potong kecil, selebihnya disimpan di kulkas buat besok. Kalau memaksa makan banyak, akibatnya bisa merugikanku sendiri. Aku sudah kapok dan ga mau lagi terpaksa harus operasi kecil mata coz mata bengkak akibat kebanyakan makan coklat. Dari zaman kuliah dulu aku sudah 3x terpaksa harus menjalani operasi kecil di mata coz mataku bengkak n ga kunjung sembuh. Akibatnya mata harus ditutup perban selama semingguan. Huwfffh.... terpaksa ngumpet di rumah 1 minggu dp harus menjawab pertanyaan yang sama berkali-kali. ‘Matanya kenapa?’ hehehehehe.......

Dan kebeneran aku sering banget dapat oleh2 coklat. Coklat Monggo dari Yogya yang sebagian teman2ku ga suka coz katanya rasanya pahit, tapi aku suka, coklat 'Chocodot' khas Garut, bahkan coklat bergambar ayam jago berbungkus merah-putih, coklat yang dulu dijual Rp.100,- waktu aku masih kecil, aku pun suka banget. Tapi sekarang ga tahu, apakah coklat itu masih ada atau tidak.


Coklat 'Chocodot' oleh2 khas Garut yg belakangan ini lg populer.
Hati2.... ada yg super pedas lho...

Kadang2 aku dapat oleh2 coklat juga dari luar.
Dutch chocholate dapat dari temanku yang sering dapat oleh2 ataupun kiriman dari familinya yang tinggal di Belanda. Biasanya ada varian buah2an seperti kismis, kelapa.
French chocholate oleh2 dari Ibu kost-ku yang memang gemar berpesiar.
Coklat S’pore atau Malaysia dari teman atau atasanku yang kebeneran lagi jalan2 ke sana.
Coklat USA inipun juga oleh2 dari teman.

Tapi di antara sekian coklat, yang paling enak menurutku coklat Switzerland. Ini yang selalu kutunggu-tunggu dibawain oleh dedeku dari Papua sono coz di sini aku belum pernah lihat ada yang jual. Kadang dibawain coklat Swiss kadang coklat Aussie coz di sana memang banyakan dijual barang2 import. Secara teritorial, Aussie tinggal nyebrang doank biarpun makan waktu lama juga.... hehehehe....


Ini coklat yang bungkus n namanya kaya sabun.
Tiap potong coklat dibungkus kertas emas yg jika dibalik tertulis kata2 mutiara.
Rasanya pun enak. co... cwiiit....

Kadang suka pengin dibawain beraneka varian, tapi berhubung harganya selangit, jadi cukup berpuas diri dengan 1 white chocholate. Coklat rasa yang lain nti minta secuil dari yang kebagian jatah rasa lain. Hehehehe....

Liburan Natal ini aku kembali dioleh-olehin coklat Swiss oleh dedeku. Tapi alamak, ketinggalan. Hohoho... Padahal udah kuingat-ingat. Coklat.... coklat.....
Tapi untunglah kakakku yang back to Bandung 4 hari sesudah aku, mau membawakannya untukku.
Jadi deh kebagian coklatnya, ga perlu nunggu 3 bulan lagi. Hehehehe... Tengkyu... tengkyuuuu....
Coklat... oh coklat.....


White chocolate from Switzerland.... ^_^

Thursday, December 16, 2010

DECEMBER

Ga terasa Desember sudah hampir berakhir. Tinggal 15 hari lagi.
Tinggal menghitung hari 2010 sudah berganti menjadi 2011.
Desember ini masih sama seperti Desember2 kemarin dan kemarinnya lagi.
Seperti biasa menghabiskan waktu dengan melakukan hal2 konyol dengan teman2ku yang satu per satu mereka mulai memiliki kehidupan baru.
Bedanya Desember ini, ibuku begitu berharap melihatku menikah.
'Nanti Desember ya? Awal tahun depan ya?'
Kujawab saja ‘Amin’ meskipun aku sendiri tidak yakin.
Bukannya aku tidak mau. Aku juga mau.
Tapi dengan siapa? Aku sama sekali tidak punya bayangan dengan siapa aku akan melangkah ke sana.
Aku tidak mau sembarangan memutuskan. Di usiaku sekarang sudah tidak bisa main2 lagi. Aku tahu, aku harus lebih serius.
Aku takut keputusanku yang tergesa-gesa nantinya hanya akan menjadi penyesalanku di kemudian hari.
Be patient mom.
Aku tahu dia mengkhawatirkanku.
Dia ingin ada seseorang yang menjagaku,
Ada seseorang yang bisa menjadi tempatku bersandar……
Don’t worry mom,
On the right time I’ll bring d right one to u….
Seseorang yang membuatku dengan yakin shout ‘Yes, I do”
Seseorang yang dengan tulus mau menemaniku meniti hari
Mau mewujudkan mimpi bersamaku
Menemani ke mana pun aku ingin melangkah
Dan membuat hari2mu lebih berwarna dengan memberimu seorang anak lagi……
Seseorang yang juga menyayangimu sebagaimana aku begitu menyayangimu….
Ya aku pun tahu, engkau sudah amat ingin menimang cucu.... xixixixi....
Love u mom………So much…

FIRST LOVE NEVER DIE?

Ada pepatah, ‘First love never die’.
Benar begitu?
Aku tidak terlalu sependapat. ‘never be forgotten’ mungkin iya. Tidak lupa ga boleh disamakan arti dengan masih cinta. Melupakan itu bukan perkara yang gampang. Bagaimanapun seseorang itu pernah mengisi hari2 kita, membuat kita selalu bersemangat menunggu esok menjelang. Seseorang itu juga yang mungkin tanpa pernah disadarinya membuat kita begitu terluka dan sedih berkepanjangan.
Dan untuk menghapus rasa cinta itu butuh waktu yang amat panjang.
Tadinya kupikir aku juga ga akan pernah bisa melupakan cinta pertamaku. Tapi ternyata tidak juga. Setelah bertahun-tahun, akhirnya bisa juga. Itupun setelah kuberanikan diri menulis ke dia klo dulu aku pernah begitu menyukainya. Kasih tak sampai. Huehuehue...
Aku tak menyesal pernah menyukainya, bagaimanapun dia pernah membuat hari2ku begitu berwarna.
Akhirnya aku tahu, sebenarnya aku dulu tidak bertepuk sebelah tangan. Dulu pun aku bisa merasakannya biarpun tidak yakin. Dan aku tidak pernah menyesali apa yang telah terjadi. Ini semua bagian dari rencana-Nya. Ya, dia orang yang baik tapi bukan orang yang tepat untukku. Tidak baik bila memaksakan diri untuk bersama.

First love.
Belum tentu ‘first love’ kita orang yang pertama kali kita sukai. Aku mulai menyukai seseorang waktu kelas 5 SD. Tapi jelas dia bukan ‘first love’-ku. Kelas 5 SD? Terlalu dinikah? Hehehehe. Yah cinta cinta monyet lah. Belakangan setelah SMP hampir lulus dia tanya kenapa dulu aku menolaknya. Padahal dulu dia sama sekali belum pernah bilang suka. Cuma dengar dari teman2ku saja. Sedangkan sebuah pernyataan langsung itu buatku amat penting. Akhirnya aku mengaku saja klo dulu pernah menyukainya. Hahahaha.... Jadilah kita saling menertawakan. Tapi lega sudah jujur.

Ketika akhirnya aku mulai bisa membuka hatiku pada seseorang, ternyata aku kembali dijauhkan. Dan aku sendiri tidak tahu mengapa? Kadang2 aku berpikir kenapa cowok suka ga mau kalah dari cewek. Bukan salahku klo nilaiku jauh lebih baik dari dia. Salahnya sendiri dapat nilai lebih buruk dari aku. Ga mau belajar sih... xixi. Paling ga aku tahu hal ini sedikit memacu belajarnya. Waktu kulihat nilai2nya di semester berikut sudah jauh lebih baik, aku merasa sedikit lebih lega n mengurangi rasa bersalahku.
Sempat sedih waktu kelulusanku yang 1 semester lebih awal darinya menyadarkanku bahwa aku memang tak mungkin sama2 dia. Tapi ini ga berlangsung lama. Cuma dengan orang ini aku sedikit ga percaya kenapa dia bisa mnyukaiku (klo aku ga ke-GR-an). Coz dulu dia termasuk cowok paling cakep di kelasku. Hehehe dia kakak angkatanku setahun lebih tua. Dan sekarang aku sama sekali dah ga tau kabarnya gimana. Paling klo ktemu cuma senyum2 aja. Malu inget yang dulu2.

Kadang2 aku suka takut jatuh cinta lagi. Takut terluka lagi. Takut klo kali ini ternyata juga bukan. Tapi cinta memang tak pernah salah. Datang tanpa pernah kita sadari, tahu2 kita sudah terjebak di dalamnya. Tadinya aku juga tidak tahu klo aku sudah kembali menyukai seseorang lagi. Jujur karena dialah aku bisa kembali tertawa dan bersemangat. Dan tanpa sadar dia juga yang membantuku memiliki kepercayaan untuk memulai sesuatu yang baru. Tapi aku memang ga yakin dengan apa yang kurasakan. Yang aku tahu aku sedih waktu dia pergi. Aku juga suka sedih klo ingat dia n bahkan dia menghantui sampai ke mimpi2ku.
Aku tahu aku perlu jawaban dari semua ini. Akhirnya kuberanikan diri untuk menulis ke dia dan akhirnya aku tahu lewat tulisan2nya bahwa sudah ada seseorang yang lebih berhak mengkhawatirkannya.
Menyedihkan, tapi kurasa ini yang terbaik. Aku jadi tahu aku memang tidak perlu menunggunya, dia memang tidak mau aku menunggunya. Kadang aku merasa begitu bodoh, apa yang kupikirkan tentang dia selama ini ternyata salah. Tapi aku sudah lega, tak lagi ada beban. Yang aku ingin tahu aku sudah tahu jawabannya. Mungkin memang lebih baik seperti ini. Terlalu banyak hal yang tak kumengerti dari dia. Aku hanya berharap semoga dia bisa meraih kesuksesan seperti yang dicita-citakannya dan bahagia berada di tengah2 orang2 yang mengasihinya.

Waktu berlalu begitu cepat. Aku menikmati hidupku dan sudah cukup bahagia dengan apa yang ada padaku sekarang ini. Ingat umur? Selalu saja diingatkan itu. Dan begitu banyak yang mendorongku untuk ‘mencoba’.
Mencoba, mungkin gampang diucapkan tapi terlalu sulit buat kulakukan. Sulit buatku untuk berpura-pura suka atau interest dengan sesuatu. Rasanya sungguh menyakitkan menjalani sesuatu yang kita tahu itu bukan yang kita inginkan. Aku takut memberi harapan palsu yang nantinya hanya akan menoreh luka yang dalam. Lebih baik tidak daripada memberi harapan sia2.
Dan bukannya aku tidak mau mencoba membuka lembaran baru. Aku mau. Dan ketika akhirnya aku mau mencoba mendekatkan diri pada seseorang. Aku sudah memantapkan hatiku, klo benar memang dia, apapun yang terjadi nanti, meskipun aku harus meninggalkan kota ini sekalipun, aku mau. Ternyata yang terjadi kemudian jauh di luar perkiraanku. Mungkin kata Tuhan, ‘bukan dia’. Tahu2 saja jarak yang jauh jadi terasa lebih jauh n benar2 sudah menjauh. Huehuehue.
Mungkin Tuhan mengabulkan doa2ku dengan cara-Nya yang ga bisa kumengerti. 'Jika memang dia tolong dekatkan, tapi jika bukan tolong jauhkan.’

Sekarang.
Sekarang ini jika ditanya, ‘Siapa yang kausuka?’. Jawabanku, ‘Tidak tahu’. Karena benar aku tidak tahu.
Kujalani aja apa yang sedang kujalani sekarang. Tanpa beban. Let it flow.
Life is beautiful. Go with the flow. And as my friend ever told me, ‘love will find a way.’
Berarti yang kemarin2 bukan ‘love’-ku karena ‘never find a way.’
Ya... yang berlalu biarlah berlalu. Tetaplah optimis. Ini berlaku juga buat sahabat2ku yang kupaksa baca tulisan ga pentingku ini.
Believe......
Love will find a way........... ^_^

Monday, December 6, 2010

SUKSES

Ibuku pernah bilang, sukses itu mahal harganya. Jika mau sukses, memang ada yang harus dikorbankan.
Sedangkan sukses itu seperti apa?
Berlimpah materi, punya jabatan tinggi, terkenal, banyak fans, menjadi panutan banyak orang?
Yah, tidak bisa disangkal, ukuran sukses bagi kebanyakan orang memang hal2 tersebut di atas.
Sedangkan arti sukses buatku?
Ga bisa kupungkiri, materi itu memang perlu. Begitu banyak keinginan n mimpi yang hanya bisa diwujudkan jika keadaan materi memungkinkan. Meskipun aku tahu materi itu bukan segalanya, tapi materi itu juga perlu untuk kelangsungan hidup kita.
Apakah sekarang ini aku sudah sukses?
Sukses atau tidak itu relatif tergantung bagaimana seseorang melihat dari sudut pandang mana.
Aku mpe sekarang juga belum pernah mengatakan pada diri sendiri sekali pun klo aku sekarang sudah sukses. Masih begitu banyak hal yang ingin kuraih. Masih begitu banyak impian yang belum terwujud.
Tapi aku sudah merasa cukup bahagia dengan apa yang kujalani sekarang ini meskipun ga munafik, rasa jenuh dan menyedihkan itu kadang2 juga menghampiri.
Ada beberapa orang yang mempertanyakan keeksisanku di sini? Kalau mau ‘moving’ mungkin aku bisa ‘sukses’ dan tidak lagi direpotkan oleh banyak hal yang memang benar mpe sekarang membebaniku.
Aku sudah merasa nyaman di sini. Meskipun aku tahu kadang2 cukup berat tapi mpe sekarang aku bisa menjalani hari2ku dengan baik. Mpe sekarang aku bisa tetap eksis. Ya aku tahu, Dia terus memeliharaku. Dia selalu menyediakan apa yang kubutuhkan.
Aku merasa bahagia berada di tengah2 mereka yang begitu peduli dan mau saling berbagi bersamaku.
Rasanya sungguh tidak rela jika harus menukar semua ini dengan sebuah kehidupan yang mungkin dari luar orang melihat jauh lebih menjanjikan. Tapi belum tentu orang lain tahu bukan, apakah di dalam hatiku aku menikmatinya, apakah aku merasa nyaman dengan semua yang kumiliki.
Impianku hanyalah bisa hidup dengan tenang dan damai di tempat yang tenang tanpa harus dikejar-kejar waktu dan banyak tanggung jawab. Berada di tengah2 orang2 yang peduli dan mengasihiku. Berada di tempat yang hangat dan mau menghargai kehadiranku.
Ya aku juga pengin punya keluargaku sendiri. Punya seseorang yang bisa menjadi tempatku bersandar. Seseorang yang bisa kupercaya dan mempercayaiku. Seseorang yang membuatku merasa yakin bahwa memang dia, bahwa aku memang benar2 ingin berada di sampingnya. Dan memiliki jagoan dan gadis kecil untuk melengkapi kebahagiaan kami.
Tinggal di rumah kecil tapi asri dengan halaman yang cukup luas untuk berlarian bercengkerama tiap sore.
Dengan kolam ikan dan kebun di belakang rumah yang bisa dimanfaatkan hasilnya untuk konsumsi sehari-hari.
Hehehe... itulah sukses menurutku.
Hidup dengan tenang dan damai bersama orang2 terkasih.
Nice............... ^_^

Saturday, November 27, 2010

I’m OK

I’m OK. nothing bad happened to me.
but why so many worried about me. not sure even if all came out all right. It’s really making me getting bad.
I’m OK. I’m happy enough. Believe in me.
So many friends beside me. laughing and spending time together. doing awkward and excessive thing.
And now so much I must handle. No rest time to think something could throw me in sorrow.
Actually many things so hard for me to understand, to absorb. out of my mind, out of my plans.
Something that too difficult for me to solved by my self.
But I know, slowly and for sure there will be a way for me.
One thing I aware, I must be careful to step forward in order to prevent me blame something.
‘Your plans is not My plans.’
Let Him lead me.

Wednesday, November 24, 2010

YEAAAAAH!!!!!!!!!!!!!!!!

Sunday, October 24, 2010

Finally all have been done. not perfect but I think it’s enough for us. an unforgettable moment. a big experience despite I feel so tired and I don’t know when everything will back to normal.

My timetable totally changed. I have no time anymore to have fun with my buddies. My room was in disarray. My sleeping time became so short. waking up so late over and over as a consequence.

So much I must to do. My routine tasks were postponed by necessity. All things were in a mess. Hohoho.... it’s really making me getting stress. I miss extra days off to take a relaxation for a while.

But one thing gives me a new spirit, a new hope. I know I still have a chance. Laugh and then conclude by my self ‘how crazy I am’ but I like it. A new experience with and I know there will be de next chance to work together anymore.

I realized that I surely was frightened by something not clear. something that too fear to be seen, to be heard. But now I think all is over. I could pass it by very well and found that my fears were not reasonable. I must face it and I know nothing bad will happened to me. I’m OK even though I’m getting pain for a while. It’s about past. I believe I have a future with a wonderful life on there.
Ready to go ahead.

Yeaaaah..... 2011. I believe it will be better and better.

Monday, November 1, 2010

GOA PAYAMAN, MENELUSURI JEJAK MASA KECILKU.....

Tuesday, September 17 & October 31, 2010

Goa Payaman merupakan tempat hiking terdekat n favorit di daerahku. Favorit? Kenapa?
Menjadi tempat hiking favorit hanya di saat musim buah duwet saja. Buah kecil2 berwarna hitam yang tumbuh liar di sana. Menjadi buruan anak2 muda yang lagi pengin refreshing murah meriah.

Goa Payaman ini terletak di bukit yang memanjang di dekat rumahku. Dari rumahku pun terlihat begitu jelas karena memang letaknya dekat sekali, tinggal berjalan sekitar 100m hanya dibatasi oleh sebuah sungai. Sejak kecil aku sudah amat hafal dengan goa itu berikut cerita2 yang berkembang. Konon kata dulu pernah menjadi tempat persembunyian Pangeran Diponegoro semasa perang gerilya. Goa ini ga terlalu luas. Boleh dibilang kecil. Tapi paling tidak lumayanlah buat tempat berlindung bagi 10-15 orang waktu hujan.


Mendaki puluhan anak tangga yang lumayan bikin ngos2an


Jalan menuju goa yang didominasi oleh batu cadas.


Jalan alternatif yang bisa dilalui kendaraan bermotor.

Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun yang sampai sekarang aku belum pernah membuktikan kebenarannya, katanya goa Payaman sebenarnya ada dua, goa lanang dan goa wedhok (goa cowok dan goa cewek).Goa wedhok merupakan goa yang biasa kita datangi. Goa lanang aku tidak tahu tempatnya di mana tapi katanya memang tidak boleh dimasuki coz berbahaya. Goanya tidak setinggi goa wedhok tapi katanya goa ini amat dalam dan bercabang-cabang, tembus mpe Laut Selatan. Sengaja ditutup karena sangat berbahaya.


Goa Payaman

Sekarang2 ini, goa Payaman sedang dalam proses dikembangkan menjadi salah satu obyek wisata. Apalagi untuk mencapai tempat ini, harus melewati talang, semacam jembatan gantung peninggalan Belanda yang umurnya sudah puluhan tahun atau bahkan dah mencapai seratus tahun, aku tidak tahu persisnya.
Jembatan ini disebut ‘talang’ karena memang sekaligus sebagai saluran air, sarana irigasi bagi lahan pertanian di seberang bukit yang membutuhkan pengairan.
Seperti peninggalan2 Belanda lainnya yang tak diragukan kualitasnya, jembatan ini masih tampak kokoh mpe sekarang. Jembatan ini menghubungkan daerahku dengan bukit di seberang sungai yang memang sungainya sangat dalam dan curam dengan banyak batu2 besar dengan aliran air yang deras. Jika kita melewati jembatan ini, kita akan meniti dack2 kayu yang dibawahnya ada aliran air, jadi semacam parit yang menyeberangi sungai. Great idea!


Talang


Tak melewatkan untuk sejenak berfoto.... ^_^

Dulu waktu kecil, aku suka rada takut jika harus melewati jembatan ini. Rasanya tinggi banget. Klo jalan jembatan serasa bergoyang-goyang dengan bunyi derak kayu yang terdengar begitu kentara. Sungguh spoky klo malam sudah menjelang, apalagi tempat ini belum ada penerangan sama sekali.

Liburan Lebaran kemarin, aku menyempatkan diri melongok sejenak jejak masa kecilku ini. Jembatan yang tadinya begitu tinggi, sekarang jadi tidak tinggi lagi, kepalaku hampir sundul (menyentuh bagian atas jembatan). Masih terasa serem. Apalagi aku nekad ke sana menjelang maghrib. Untunglah ada 2 teman yang bersedia menemaniku yang tidak tahu seputar cerita2 mistik yang beredar di sana dan baru kuceritakan setelah kita mpe rumah dengan selamat. Hihihihi......


Langit mulai memerah. Saatnya pulang....

Benar seperti yang kubaca beberapa bulan lalu di internet. Bukit ini sekarang tampak lebih hijau, berkat perjuangan seorang Bapak (Bapak Bardi) yang berhasil menghijaukan kawasan ini dan memperoleh penghargaan kalpataru. Dulu dari bukit ini bisa dengan leluasa memandang lepas ke bawah, ke hamparan sawah2 dan pemukiman penduduk nun jauh di sana sambil menikmati sunset. Sekarang tidak bisa seperti dulu. Pandangan tertutup oleh pohon2 yang semakin banyak. Cuma aku jadi sedikit berandai-andai. Andai penghijauan ini dengan menanam banyak pohon duwet, beraneka varietas duwet, seperti duwet genthong, duwet kerikil, duwet putih, pasti akan seru. Wisata Payaman identik dengan wisata duwet. Hehe pasti seru.


Sekarang semua didominasi oleh hijau dan hijau.
Harus rela kehilangan kesempatan menikmati sunset.


Jadi inget, dulu waktu kecil aku sering mendaki bukit ini. Bukan ke goa Payaman-nya, tapi aku lebih sering mencari duwet n rempeni. Ini kulakukan bersama teman2 mainku yang dulu kebanyakan cowok. Menyeberang sungai rame2, mencari buah duwet jika sedang musim buah duwet. Di sepanjang jalan yang dilewati, kita tak lupa sambil mencari janur n then menganyamnya menjadi ketupat untuk wadah duwet kita. Makan duwet langsung di tempat, biarpun rasanya sepet, tapi sungguh menyenangkan. Jika sudah puas makan di tempat alias nangkring di atas pohon, kita lanjut mengisi ketupat penuh2 dengan duwet n then go home. Duwet dimakan di rumah dengan dilumuri garam biar lebih manis. Alhasil gigi n lidah kita akan jadi biru ungu semua. Huehuehuehue......

Mpe sekarang aku juga ga tahu, sebenarnya yang dulu kita lalukan ini mencari atau mencuri ya coz aku juga tidak yakin benar apa memang duwet2 ini tumbuh liar atau ada yang menanam. Masih kuingat dengan jelas, dulu tiap kita mencari duwet, kita juga merasa tidak tenang. Jika terlihat ada orang datang, kita segera lari. ‘Sing duwe teka! Sing duwe teka!’ (‘Yang punya datang! Yang punya datang!’). Terkadang kita mpe jatuh coz saat lari tersandung batu. Xixixxixi seruuuu.......

Buah rempeni.
Rempeni ini dulu bisa didapatkan di area seberang sungai, di bukit bagian bawah. Rempeni ini kita gunakan untuk maen bedil2an alias tembak2an sebagai ganti peluru. Rempeni kita masukkan ke dalam sebatang bambu kecil yang sudah dihilangkan ruas2 dalamnya kemudian kita dorong dengan sebatang kayu. Huwwwffhh klo mpe kena bidikannya, rasanya sakit pluz harus siap2 basah kena getah rempeni. Baunya wangi. Tapi tergantung juga yang membidik siapa. Klo aku yang membidik, klo kena rasanya mungkin cuma kaya dikitik-kitik coz aku tidak punya tenaga cukup kuat seperti anak2 cowok. Klo anak2 cowok yang membidik, aku lebih memilih ngumpet di sela2 batang pohon. Klo kena, kulit bakal memerah mpe lama. Rasanya pedas, perih. Huwwwwfhhh....

Terkadang dulu aku suka ikut omku yang memang hobi naik turun bukit. Hiking bersama Jenggo anjing kesayangan kami yang penurut. Selalu ikut ke mana pun omku pergi. Tidak peduli jika harus menyeberang sungai sekalipun. Ya Jenggo tidak takut air. Dia pintar menyeberang sungai.
Berangkat dari rumah sekitar jam 4-5 sore. Berjalan beriringan sekitar 4-5 orang diikuti paling belakang oleh Jenggo. Perjalanan yang panjang. Cape, peluh bercucuran. Tidak tahu sebenarnya ke mana omku ini ingin pergi. Terus saja mengikuti langkahnya tanpa berani bertanya sebenarnya mau ke mana. Jangan harap klo pergi ma omku kita akan mencari buah duwet. Tidak. Sekali pun aku belum pernah diajak omku ini berburu duwet.

Akhirnya ketika langit di ufuk barat mulai kemerahan, sampailah kita di puncak bukit sebelah utara. Barulah omku berhenti. Di sebuah kuburan. Ngapain pake acara berhenti di kuburan. Hiiiiii....... sereeemmm.....
Sebenarnya aku takut. Kenapa musti berlama-lama di sini. Tapi belakangan aku tahu. Pemandangan di bawah bagus banget. Tak ada sesuatu pun yang menghalangi pandangan kita. Sawah terhampar menghijau dengan pemukiman penduduk tampak di sana sini. Jalan raya Jogja-Wates dengan truk2 dan bus2 besar yang sedang melintas pun terlihat di kejauhan. Tangan kita tak henti2 menunjuk ke kejauhan. Itu Pertamina Rewulu.... Itu Universitas Wangsa Manggala.... Itu kantor Polisi.... Itu rel kereta. Eh ada kereta lewat. Ya akhirnya kita mulai bisa menikmati puncak perjalanan kita dan berangsur-angsur rasa takut menghilang.

Omku mengambil sebuah batu dan menunjukkan padaku. ‘Ini batu bintang.’ Baru tahu. Bongkahan batu2 kecil berwarna putih yang jika saling digosokkan akan tampak berkilauan. Yeaaah..... akhirnya pulang dengan mengantongi beberapa bongkah batu bintang.

Tak berapa lama pemukiman di bawah sudah mulai menyalakan lampunya. Terlihat kerlap-kerlip di bawah sana. Ya, sudah saatnya pulang. Merinding kembali menyergap. Yang terdengar suara2 binatang malam yang saling bersahut-sahutan memperdengarkan suaranya. Bener2 serem. Apalagi di bukit itu sama sekali belum ada penerangan.
Menuruni bukit pelan2 dengan diterangi cahaya senter. Berjalan ke arah perumahan di bawah bukit yang sudah ada penerangan listrik.

Yaaaaaa...... masa2 menyenangkan yang dulu pernah kulewati. Yang aku tidak tahu apakah bisa kualami lagi.
Paling tidak aku pernah punya pengalaman masa kecil yang demikian menyenangkan.
Yayaya...... masa2 yang tidak akan pernah bisa kulupakan.....

*****
Sedikit pengin berbagi kisah Bapak Bardi setelah memperoleh penghargaan kalpataru, Beliau tetap gigih berjuang tanpa pamrih sebagai pahlawan lingkungan hidup. Salut dengan Bapak satu ini. Berikut kisahnya....