Friday, June 5, 2009
SEBUAH STASI DI TASIK-PANGANDARAN
Saluuuuuuuuuuut!!!!!!!!!
Kata itu yang terucap mendengar kisah perjuangan sebuah stasi di Pangandaran yang berjuang untuk tetap hidup dan berkembang. Sebuah stasi kecil yang mulai ada sejak th.1980-an dengan jumlah warga sekarang teramat sedikit. 30 warga bukan 30 KK. Waktu kami bertandang ke sana sebagai koor tamu, jumlah kami lebih banyak dibandingkan umat yang menghadiri misa. Kami berjumlah sekitar 30 orang, umat yang hadir jumlahnya tidak sampai 10 orang.
‘Memang beginilah keadaan kami. Kadang kala yang datang cuma 6 orang karena banyak di antara umat yg pergi ke luar kota. Akhirnya petugas ekaristi juga itu2 aja. Kadang kala jika ada tamu rombongan wisata yang ikut merayakan ekaristi di sini, kami minta bantuannya untuk mengisi mazmur, bacaan dan koor.’ Sungguh memprihatinkan.
‘Makanya di sini suka disebut ‘misa wisata’ karena banyakan yg ikut misa tamu2 yang sedang berwisata di sini.’
Kebetulan di kompleks kapel itu juga disewakan paviliun yang cukup nyaman. Boleh menjadi alternatif jika sewaktu-waktu berlibur ke sana. Paviliun dengan 3 kamar tidur ber-AC. Masing2 kamar berisi 1 twin spring bed dan 1 single bed. Ada 2 kamar mandi dan 1 ruang keluarga dengan sofa dan 2 kursi + meja kecil di beranda depan. Cukup menyenangkan. Lokasinya juga ga terlalu jauh dari Pantai. Jalan kaki ke pantai pun ga terlalu melelahkan. Bisa juga jika minta disediakan breakfast, lunch dan dinner.
Semoga stasi kecil ini tetap hidup dan berkembang. Warga stasi yang rasa kebersamaannya sungguh terasa. Terimakasih kami sudah diterima dengan baik.
Yah, stasi ini selalu terbuka untuk siapa saja, untuk kelompok koor mana saja yang bersedia mengisi koor di sana, untuk lebih menghidupkan perayaan ekaristi di sana.
Misa tiap minggu sore pk.05.00, di minggu I dan minggu III. Minggu II dan IV diisi ibadat oleh prodiakon setempat.
‘Bapak-Ibu, Cicilia (petugas lector hari itu), kami pamit dulu. Nti kapan2 boleh ke sini lagi ya! Terimakasih!’
PANGANDARAN…………… HO HO HO
Monday, May 18, 2009
Akhirnya nyampe juga aku ke Pangandaran biarpun cuma sebentar, paling ga sudah pernah menginjakkan kaki di sana. Dari dulu pengin ke sana belum kesampaian. Terimakasih akhirnya ada kesempatan buatku nyampe ke sana.
Pukul 13.30 kita nyampai ke Pangandaran. Melewati sepanjang tepian pantai menuju Villa ‘Bintang Timur’ tempat kita transit sebentar dan pk.16.30 mengisi koor misa sore di sana.
@ Wisma Bintang Timur
Acara selanjutnya acara bebas s.d. pk.15.30. Rombongan terbagi dua, ada yg ke pasar, ada yg langsung ke pantai. Aku prefer ke pantai, ke pasar takut malah jadi boros beli yg aneh2.
Ternyata kios2 di sepanjang pantai menjual aneka pakaian yg lutchu2. Akhirnya beberapa dari kita menclok rada lama di sana, termasuk aku. He he. Ditawar susah banget. Paling puol bisa turun 5 ribu. Ditinggal pergi juga kagak ngaruh. Semakin mendekat ke arah pantai, harganya semakin mahal. Kata Ko Han di Pasar Baru juga banyak. ‘Tapi motifnya ga ada yg kaya gini,’ kataku. Akhirnya beli deh….. dp nti nyesel kepikiran.
Earthquake warning
Waktu ketemu Tante2, mereka pada menenteng ikan asin.
‘Klo Ibu2 belanjanya ya kaya gini, klo yg muda2 belanjanya baju2,’ kata Tante Iing.
Belakangan aku jadi ikut beli juga ikan asin buat oleh2 teman kost n teman kantor. Minta tolong Tante IIng yg nawarin. Beli 10 bungkus Rp.10.000,- Gila…. Murah banget. Ga sebanding dengan kerja keras mereka, menangkap, membersihkan, mengeringkan, packing dan menawarkan dagangan mereka dengan berjalan kaki di terik matahari sepanjang hari. Sebuah perjuangan untuk tetap hidup. Salut!
Panas begitu terik. Melewati tepian pantai sebentar terus nyusul Om dan Tante yg lagi pada jajan di warung2 di tepi pantai. Es kelapa muda @Rp.5.000,- Pecelnya @Rp.1.000,- juga boleh. Enak lho pecelnya. Aku nyomotin punya Tante Iing aja dan kebagian jatah ngabisin. Si Tante curang, tapi mang enak sih, bumbunya kerasa banget. Akhirnya pecelnya habis di tanganku. Aku juga maksa yg lain bantuin ngabisin es krim pudengku, 1 gelas Rp.5.000,-. Lumayan…………
Aku main air cuma sebentar coz pada ga semangat diajak main ke air. Ngobrol2 ma tukang perahu di sana. Namanya Akhmad. Dia ramah banget. Aku banyak tanya tentang Pantai Pasir Putih, pulau2 kecil di sana, pemandangan bawah laut dan absolutely ‘Green Canyon’. Ya…. dari dulu pengin ke sana. Selama ini cuma view gambar n lihat di tipi doank.
Sebenarnya aku pengin naik perahu, coz limited time, sekedar ke Pantai Pasir Putih aja gapapa deh, toh ½ jam di sana juga sudah cukup. Tapi pada ga mau diajak, takut tenggelam.
Waktu kutanya ke Akhmad, sewa perahu Pangandaran-Pasir Putih 75 ribu, belakangan diturunin jadi 30ribu. Sebenarnya jarak ke Pt. Pasir Putih ga jauh2 amat, sepertinya ditawar jadi 20 atau 25 ribu bisa. Tapi aku ga berniat menawar, buat gambaran dulu aja klo someday mau ke sana. Sewa perahu ke Green Canyon lebih gila lagi. 700 ribu boooo…. Mahal amat. ‘Itu masih bisa nego kok mbak,’ kata Akhmad.
Waktu tanya ke salah satu Bapak lingkunganku yg sering ke sana, katanya ke Green Canyon lebih murah bawa kendaraan sendiri ke sana, jangan sewa perahu. Naik ojek dari Pangandaran ke sana juga ada banyak kok.
Sebenarnya aku pengin ke Pantai Batu Karas, katanya lebih alami, belum terlalu komersil. Tapi di sana ada banyak turis asing coz lokasi ‘diving’. Hotel juga ga banyak, di sana lebih banyak perumahan penduduk yg disewakan. Jadi punya gambaran klo someday pengin ke sana. Menginap semalam di Pt. Pangandaran atau di Pt. Batu Karas lanjut ke Green Canyon. Pasti seru……………
Semakin sore semakin teduh. Akhirnya Ko Han, Ci Jena, Ci Siska muncul setelah rada lama ngilang di antara kios2 baju.
‘Main ke air hyuuuk…… masih pengin!’
Maksa mbak Janti, kutarik tangannya, akhirnya mau kut turun juga. Danil dah ga mau kena air. ‘Ya udah, km yg motoin ya! He he…’
Akhirnya main air lagi………………..
Lihat yg pada mandi2, pake ban mpe rada tengah, naik perahu………………. Jadi pengin. Andai ke sini ma Week, Nick, Ndra n Dhex, Kuntil, Lex, Etil, Salliwet, Tiut, Babon n Puad. Pasti pada mau diajak basah2an. Tapi di Pangandaran ada mitos kaya di candi Prambanan, yg lg ‘in relationship’ ga boleh ke sana klo ga mau ‘break’.
Pk.15.30 sudah dipanggil suruh balik ke Villa, bus yg menjemput sudah datang.
Waktu di bus, mbak Rini kebetulan duduk di depanku. ‘Lihat hp-mu! Td kutelepon berkali-kali ga diangkat. Mau kuajak naik perahu!’
‘Yah…… aku ga denger mbak. Ta’taro di tas.’
‘Makanya tadi aku terus naik perahu bertiga ma Lukas n ALoy, ke Pt. Pasir Putih. 30 ribu bertiga.’
Rada nyesel juga. Kebiasaan sih, makanya jangan pada marah klo meneleponku ga ta’angkat. Suka ga denger. Malas ke mana2 nenteng HP atau naruh di saku.
Mpe villa lagi. Kita antree mandi and then menyanyi lagi. Rasanya sore itu koor-nya lebih bagus dibanding waktu di Tasik. Yah…. maklum, kita menyanyi dalam suasana santai tanpa beban.
Kata mbak Janti, ‘Di Tasik kan kita grogi, difoto terus sih.’ He he…. Mang kita jadi seleb dadakan coz mas yg dimintain tolong memfoto ketitipan banyak kamera minta tolong dipotretin, termasuk salah satunya diriku. Makacih makacih.
Habis misa, kita ‘bersalin’ pakaian yg lebih santai lanjut barbeque di tepi pantai. Kita makan di tempat terbuka di sebuah rumah makan persis di pinggir pantai yg belum selesai dibangun. ‘Serasa di Jimbaran Bali’…. kata banyakan di antara kita.Menu yang sangat lengkap. Sate udang goreng, cumi goreng, ikan goreng, kepiting asam manis, sambal kecap, kerupuk dan 4 macam sayur tinggal pilih. Hmmmmmmmmmmmmmm………
Semua menu lauk aku alergi, tapi ya ga mau ketinggalan………Norit…. Norit…… He he……..
Makan malam diiringi debur ombak dan taburan bintang di langit. Wuowwwww……. Berharap ada meteor jatuh, ternyata malam itu tidak boleh ‘make a wish’.
Barbeque di tepi pantai
Akhirnya pulang….. back to Bandung.
‘Retno! Ga ada yg ketinggalan kan? Sudah puas kan ke pantainya?’ tanya Bu Ketua lingkungan.
‘Perahu ma ban-nya ketinggalan! Belum sempet naik!’ seruku dari belakang.
Yang lain pada ketawa.
Ya ya ya………… bikin planning lagi. Nti someday ke sana lagi rame2…… Hyuuuuuuuu… mari!!!!!!!!!!!!!!
BERKUNJUNG KE TASIK UNTUK KEDUA KALINYA
Sabtu malam pk.20.00 berangkat dari Bandung bersama Bapak-Ibu Lingkunganku. Baru pertama kali ini aku ikut acara keluar Lingkungan. Biasanya klo ga coz berhalangan, aku lagi males pergi2. Warga Lingkungan-ku memang pada hobi jalan2, ke Tasik-Pangandaran ini acara jalan2 Lingkunganku yg ke-18 kalinya. Whuuuuuiiiiiiiii…………..
Kita ke Tasik coz diminta mengisi koor misa pagi di sana. Mpe Tasik sekitar pk.22.00. Sungguh sambutan yang amat ramah. Kita datang sudah tersedia aneka snack dan minuman penghangat badan. Ada teh, kopi dan bajigur. Bajigurnya enak, ditemani cemilan2 khas Jawa Tengahan. Kita menginap semalam di sana. Sudah tersedia 2 ruangan yang sudah siap untuk kita tidur dengan banyak bantal di dalamnya. He he… pdh aku dah bawa bantal sesuai instruksi Ibu Ketua Lingkungan. Gapapa deh, bantalku bisa buat guling. Cowok dan cewek tidur di tempat terpisah. Tidur ramai2 di atas tikar seru juga.
Kita tugas koor pk.07.30 pagi. Tadinya kukira kita bakal antree bgt mandinya. Ternyata ga juga. Tante2 pada rajin. Pk.04.30 mereka dah pada mandi. Pada rajin2 ya. Aku mandinya nti aja deh belakangan, lanjutin bobox dulu. Akhirnya pk.06.00 baru deh mandi.
Pagi2 sudah disediain breakfast, tapi aku ga ikutan, takut jadi sakit perut.
Misa Minggu pagi. Hari itu umat Tasik yang ikut misa lumayan banyak. Tidak seperti 2 tahun yg lalu waktu aku ikut misa di sana. Mungkin juga coz waktu itu habis hujan, jadi pada malas ke gereja.
Tugas pagi itu cukup meriah, dengan 3 suara sopran untuk beberapa lagu. Pada bikin improvisasi sendiri2 biar lebih bervariasi. He he……. ~_^
Usai bertugas, sudah tersedia ‘sarapan’ buat kita. Sebenarnya lebih tepat disebut makan siang. Makan siang dengan menu amat lengkap. Kita makan siang bersama Pastor, Ibu2 WK dan DPP di sana. Bapak-Ibu di sana semuanya ramah2. Aku banyak sharing tentang makanan2 yg enak di Tasik, coz beberapa tempat makan yang terkenal di Tasik aku sudah tahu waktu 2 tahun yg lalu aku ke sana. Bubur ayam ‘Zainal’, RM. Padang ‘Citro Bundo’ dan RM ‘Cibiuk’. RM Cibiuk di Bandung juga ada, tapi kataku n kata temanku yg dulu bersama-sama ke Tasik, rasanya lebih enak yg di Tasik, lebih murah lagi. Aku dapat referensi baru makanan yang enak di sana, TO (Tutug Oncom) dgn harga murah, Nasi TO @Rp.3.000. Aneka lauk tersedia tinggal pilih sendiri. Rata2 per orang habis 7-8 ribu. Soto ‘Empangsari’. Ya, 2 makanan ini aku belum pernah mencoba.
Juga tentang tempat ziarah baru di Nusa Kambangan yg katanya bagus bgt. Sebuah gua alami dgn banyak stalagtit-stalagmit di dalamnya. Akses ke sana mau ga mau dengan berjalan kaki dgn jarak tempuh sekitar 1 ½ jam. Ini namanya baru ziarah beneran, sekalian jalan salib. Jalan kaki pp setelah sebelumnya menyeberang dgn kapal fery. He he….. pasti seru.
Jadi pengin ke sana. Ayo Bapak-Ibu Lingkungan kita someday ziarah ke sana. Aku pasti ikut……. (Ibu Ketua Lingkunganku ga pernah bosen2nya membujukku supaya ikut acara keluar mereka, dan baru kali ini berhasil).
Untuk sekarang2 ini aku lebih suka berziarah ke tempat ziarah yg masih alami dan belum terlalu komersil. Masih bisa berdoa dengan tenang dan benar2 merasa berziarah. Kemarin sebenarnya pada pengin sekalian ke sana, tapi waktunya sudah tidak memungkinkan. Nanti buat lain kali ya…...
Pukul 10.00 kita meninggalkan Tasik menuju Pangandaran diiringi lambaian tangan Bapak-Ibu yang melepas kepergian kami.
‘Ibu! Rujaknya enak,’ kataku waktu berpamitan ke Ibu yg bertugas menyiapkan makan siang. Si Ibu ketawa. Rujak khas Tasik, dimakan bersama rengginan.
‘Nanti gantian main ke Bandung ya!’
Dan kuledekin Bapak Ketua DPP di sana yg sama medhoke kaya aku, tyt orang Solo. ‘Pak, habis ini pasti terus nyobain Soto Empangsari ma ziarah ke Nusa Kambangan. Biar klo nti ada tamu lagi, bisa cerita yang bener!’
He he si Bapak ketawa. ‘Iya iya’. Sebelumnya Bapak ini waktu kutanya katanya gua di Nusa Kambangan ini gua buatan bukan gua alami. Yeee……ketahuan belum pernah ke sana…… He he he……………
Thursday, May 14, 2009
KE CIWIDEY LAGI.........................
Ternyata bisa juga ke gereja pagi. Tidak telat lagi. Pk.06.50 kita sudah duduk manis di dalam gereja Kathedral Bandung. Tapi ya harus berjuang ekstra beberapa kali memaksa suruh bangun n cepet2 mandi.
‘Ga malu apa klo nti dijemput belum siap!’
Ternyata oh ternyata, si Ndra belum mandi. Akhirnya hbs dari gereja back to hotel dulu. Selagi Ndra mandi, aku ma Week belanja ke supermarket beli perbekalan kita untuk hari itu.
Rencana awal mo pada breakfast di Gazibu. Aku pengin memperkenalkan batagor ‘Queen’. Pengin tahu gimana pendapat mereka tentang batagor favoritku ini. Ternyata ga kesampaian. So crowded……. Sama sekali ga bisa jalan maju. Akhirnya kita putar arah, langsung ke Ciwidey. Sebelumnya mampir dulu ambil nasi box pesananku buat makan siang kita yang akhirnya menjadi breakfast kita, dimakan sambil jalan. Pada laper euy…..
Di jalan menuju Gazibu, sempat kulihat sebuah tindakan yg tidak berperikehewanan. Sebuah andong bermuatan penuh yg ditarik oleh seekor kuda yang kedua lututnya luka berdarah. Sepertinya kuda ini habis jatuh terpeleset.
Tega nian Bapak kusirnya…………
Pk.12.00 kita sampai di Kawah Putih. Bea masuk per orang Rp.11.000,- + mobil Rp.5.000,- Berlima tanpa sopir jadi Rp.60.000,- tapi kemarin kita cuma bayar Rp.55.000,-. Dapat diskon. He he…. berkat Si Bapak sopir.
Hari itu so crowded. Yah, maklum………… longweekend.
Sempat beli gelembung sabun warna merah. Dijual @Rp.3.000,-. Tapi hari itu tidak banyak angin, jadi kurang seru main gelembung sabun, malah beberapa kali kena muka coz angin yg berbalik arah. He he he…..mg2 ga jadi iritasi.
Kawah masih terlihat sama seperti Juli’08 terakhir aku ke sana. Airnya masih terlihat hijau bukan putih seperti namanya. Bau belerang juga masih tercium. Hanya pepohonan di pinggiran kawah dan di bukit latar belakang kawah tampak lebih hijau. Ya….. coz tersiram air hujan yg belakangan ini intensitasnya lumayan.
Cukup lama kita di area kawah. Biasa….. berfoto-foto….. Kumat deh narsis-na……………. ^_^
Sebelum pulang, mampir dulu beli jus strawberry. Segarnya………….. Jadi pengin lagi. Rasanya masih sama kaya tahun kemarin aku beli. Strawberry-na kerasa banget. Harganya juga masih sama @Rp.5000,-/cup.
Ada juga strawberry celup coklat dan pisang celup coklat. Fresh from d oven. Tahun kemarin kayanya belum dijual. Per piring kertas isi 3 tusuk (strawberry tiap tusuk isi 3, pisang isi 1) dihargai Rp.10.000,- Ditawar Rp.15.000,- dapat 2 piring, boleh. Strawberry per kotak besar dijual @Rp.20.000,-. Ditawar jadi Rp.10.000,-/ kotak.
Pk.14.15 kita meninggalkan kawah. Masih banyak rencana hari ini takut ga keburu. Hujan gerimis. Duh….. kesampaian ga ya berfoto di kebun teh. Week n Nick pengin banget.
Pk.15.10 Sodo menelepon Dhex, mengabarkan bus mereka buat back to Semarang berangkat pk.17.30.
Gila…….. kita masih di Ciwidey. 2,5 jam keburu ga ya? Moga2 jalan ga macet. Dasar Sodo, ngasih tau juga mendadak gini.
Rencana hari ini sungguh terberkati. Memasuki area perkebunan teh Ciwallini, di luar sama sekali tidak hujan. Kita turun sebentar untuk berfoto. Dalam perjalanan pulang hujan kembali turun.
‘Pak, ngejar bus jam 17.30 di Jl. Riau ya Pak! Semoga keburu.’
Kuakui…. Si Bapak sopir bawa mobilnya canggih sekali. Ndra juga mengakuinya. Biarpun bawa dalam kecepatan tinggi dan bawanya sedikit kasar, tapi perhitungannya amat akurat. 2x kukira bakal tabrakan waktu berpapasan dgn mobil lain, ternyata tidak. Dan kita merasa safe, sama sekali tidak takut. Sepanjang perjalanan pulang sejak kemarin, kita bisa tidur dengan nyenyak. He he….. Si Bapak hebat. Salut ma si Bapak. Yah, jam terbangnya tinggi. Boleh deh nti klo jalan2 lagi minta anter bapak ini lagi. ‘Jangan kapok ya Pak!’
Confirm ke Pahala Kencana, tyt jam kumpul bus pk.17.30, berangkat pk.18.00. Pk.17.00 kita sudah berada di Kartika Sari Kebun Kawung untuk beli oleh2. Mengantar Dhex ke pool Pahala Kencana di Jl. Riau and then ke Babe n FO di Jl. Riau, lanjut ke Distro di sepanjang Jl. Trunojoyo. Ndra yang hunting malah yg dapat beli kaos si Week.
Pk.19.45 berangkat ke stasiun mengantar Nick n Dra yang bakal naik Lodaya pk.20.00.
‘Makan malam beli di restorasi aja ya. Ga keburu beli di luar!’
Gila si Nick keesokan hari ada ujian DDAM. Aku juga baru tahu beberapa jam menjelang kepulangannya ke Yogya.
‘Hayo…. Di jalan belajar ya. Jangan pacaran mulu!’
Si Nick ketawa, mengangguk-angguk sambil nunjukin buku DDAM-nya dari dalam kaca yang dari luar terlihat gelap.
Kuacungin jempol 4 sambil mengangkat kaki, si Nick n Ndra ketawa.
‘Take care!’
Yah, liburan yg teramat singkat. Masih pada belum puas. Ndra belum kesampaian cari kaos bertuliskan ‘Bandung’ n jalan2 ke PVJ, kemarin sempat dilewatin PVJ sepulang dari ‘Sapu Lidi’ tapi ya ga kelihatan apa2 coz sudah gelap. Nick belum kesampaian cari batagor (Riri atau Kingsley) buat oleh2 temannya n peuyeum buat nenekku. Ya…. nenekku suka banget peyeum Bandung, Mbok Yem juga. Tapi sekarang Mbok Yem dah ga ada.
Kemarin hujan2, dingin2, pada pengin makan bakso. Tadinya klo keburu mau kuajak ke baso ‘Joko Sirod’ di Jl. Karapitan. Ada juga di Jl. Saad. Baso yg belakangan ini aku suka dan menular ke teman kantorku. Tapi belum kuperkenalkan ke teman2 kostku. Nti deh kapan2 ta’kenalin.
Baso 1 porsi gedhe, amat sangat kenyang, per porsi Rp.10.000,- Ternyata kemarin ga keburu…… He he nti lain kali ya……
Pada bikin janji…. Nti jalan2 lagi, 1 hari khusus jalan2 keliling Bandung, biar puas. Hari lain ke Ciater lagi, foto2 di kebun teh lagi. Foto2 di kebun strawberry kemarin ga kesampaian coz tyt lg tidak musim.
Ya ya ya……… CU on the next vacation in Bandung.
And then……… Semarang……… and then Papua…… He he……
‘Sodo…. Udah kamu kerja di Bali atau Lombok aja. Biar kita bisa liburan ke sana. Liburan murah meriah. He he he.’
‘Penginnya sih gitu!’ kata Sodo.
I hope so………….
GARUT - LEMBANG - CIATER, DALAM SEHARI
Carmel-Lembang
Setelah berdiskusi kilat, akhirnya pk. 14.00 kita memutuskan meninggalkan Garut. Back to Bandung, langsung menuju Carmel. Melewati tol, sepanjang perjalanan, hujan turun. Tadinya terpikir mau langsung ke FO aja. Percuma hujan2 ke Carmel. Ternyata hari itu perjalanan yg terberkati buat kita, mendekati pintu keluar Tol Pasteur, di luar terlihat kering, tidak hujan.
‘Pak, langsung ke Lembang. Kita ke Carmel.’

Pk.16.20 kita sampai di Carmel. Ternyata di sana ada misa Sabtu sore pk.17.45, yg didahului dgn doa Novena. Diajak ikut misa sekalian pada ga mau, coz kita cuma pada pake celana pendek, kecuali Dhex, hanya dia yg bilang ‘siap’ ikut misa. Yah, terbiasa di Yogya-Jawa Tengah ke gereja selalu pakai pakaian formal, jd merasa ga nyaman kut misa pake baju maen, celana pendek lagi. Ya sudah, kut misa besok pagi aja, semoga pada bisa bangun pagi, biar ga banyak waktu terbuang percuma.
‘Pada bisa bangun pagi kan?’
Yang ditanya cuma pada ketawa.
@Carmel
Pk.17.20 kita meninggalkan Lembang. Dah pada lapar. Kita memutuskan mau makan malam di daerah Sersan Bajuri, sekalian lihat view hamparan bunga di sana, semoga masih terlihat. Tiba2 terpikir kenapa ga sekalian ke Ciater, sekalian mandi, toh kita semua dah bawa baju ganti, persiapan berendam air panas di Cipanas-Garut yg batal.
Otre……lanjut ke Ciater.
Memasuki kawasan Ciater, terlihat hamparan kebun teh yang amat luas. Week pengin banget turun untuk foto2. Ya, sejak awal Week n Nick pengin banget berfoto di kebun teh.
‘Besok aja ya! Percuma, ga akan terlihat. Sayang waktunya.’
Akhirnya sampai juga di Sari Ater. Ternyata buka 24 jam, kirain cuma mpe pk.21.00. Lumayan sudah gelap, jdi tidak terlalu ramai. Berendam di kelas VIP waktu Ndra ngukur suhu air menunjukkan 44°C. Ga deh… bisa melepuh. Kita2 kan ga kuat panas. Lagian mahal…… Di kolam renang kemungkinan suhu air sekitar 42°C. Di pancuran bawah aja yang suhunya 41°C aku, Week ma Nick masih ga kuat. Kaki terasa sakit saking panasnya. Mencoba menyesuaikan dgn suhu air tetap aja ga bisa. Akhirnya turun sedikit ke bawah lagi. Suhu 38-40°C, baru deh dengan penyesuaian beberapa menit akhirnya berani berendam di sana.
‘He…. Semakin ke bawah, air semakin kotor lho. Kan sisa2 dari atas. Dah terkontaminasi oleh banyak orang,’ kata salah satu temanku.
‘Biarin…. daripada melepuh,’ kataku. ‘Lagian kuman2nya udah mati kepanasan. Sugesti… sugesti… He he.’
Temanku ‘Riz’ yg di siang hari juga ke Ciater komen di status Fb-ku katanya air di Ciater sekarang keruh, bikin gatel. He he…. Kebeneran kita di sana udah malem, jadi keruh pun ga kelihatan. Bodo amat. Untung juga malam2 dah ga terlalu rame. Jadi ga terlalu jadi tontonan orang, ga kelihatan pula.
Besok lagi klo ke sini lagi mending malam aja ya…..
Lumayan seru, bikin fresh. Kita berendam ditemani susu murni cup rasa coklat dan strawberry yg banyak dijajakan di sana.
Sari Ater
Kita berendam lumayan lama, mpe jari2 tangan dan kaki kerut-merut kaya nenek2.
Pk. 20.30 kita cabut dari sana. Laper………………
‘Malam2 gini enaknya makan di mana ya?’
Kucoba telepon ‘Sapu Lidi’ sepertinya buka mpe pk.23.00, malam minggu pasti masih ramai. Dan benar, buka sampai pk.23.00. Akhirnya kita meluncur ke sana.
Brrrrrrrrrrrr…….. dinginnya. Pada ga tahan kedinginan. Makan di area persawahan malam2 tyt dingin juga ya. Pelayannya aja pada pakai jacket. Sodo yg badannya kurus dah ngeluh kedinginan sejak menginjakkan kaki di sana, bahkan saat di Carmel.
‘Makanya badannya digemukin. Ada gunanya juga kan punya saving lemak. He he.’
Malam itu ramai sekali. Pengin makan di saung yg akses ke sananya pake rakit tp sudah direservasi, begitu pun saung2 yg akses ke sana tanpa rakit. Yah kita salah sih, tadi tidak reservasi dulu.
Pada ga betah berlama-lama di sana. Malam semakin dingin. Tapi biar dingin si Nick ma Ndra tetep aja beli es kenyot. Rasa vanilla ma ketan hitam. Pas aku kut ngicip, tyt enak juga. Akhirnya ikut beli es ketan hitam @Rp.5.000,-
‘Ada yg mau? Buat menyesuaikan suhu tubuh dgn suhu udara. Enak kok!’
Tapi ga ada yg tertarik. Ya sudah…. Dihabisin sendiri ajah.
@Sapu Lidi. Pd kedinginan
Pk.22.45 kita back to Bandung. Berpisah rombongan. Aku, Week ma Nick ke hotel tempat Week menginap, Ndra, Dhex ma Sodo ke rumah kakak Sodo tempat mereka bermalam.
Mpe ketemu besok pagi ya. Awas ya, jgn kesiangan. Kita kut misa pagi di Kathedral pk.07.00. Ya…. pada pengin ngrasain misa di Kathedral.
Kata Sodo,’Yg ke Garut ga banget. Tapi Carmel ma Ciater bolehlah. Sudah terobati sebelnya.’
‘Kan bertahap. Dari yg ga bagus dulu meningkat ke yg bagus. Biar seru. Kalau yg ga bagusnya buat besok nti pulang2 pada ilfil. He he.’
Lumayan seru hari ini. Biar capek tapi kita semua senang.
Brrrrrrrrrrrrrrr…………. Tapi dinginnya kok ga ilang2 ya……
Tuesday, May 12, 2009
SITU CANGKUANG - GARUT, AN UNFORGETABLE EXPERIENCE
Sabtu, 9 Mei 2009. Kita jalan2 lagi…….
Rombongan dari Semarang mpe Bandung subuh, dari Yogya mpe Sta. Bandung pk.06.00 pagi.
Yuhuiiiiii……akhirnya jadi juga pada ngumpul di Bandung. Week dah 1 minggu di Bandung, kebetulan lagi ada pelatihan dari kantornya. Siiip, libur 2 hari. Jalan jalan lagi hyuuukkkkk!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Libur hari 1 kita mau jalan2 ke Garut. Tujuan kita mau ke Danau Cangkuang dan Pemandian air panas. Mau ke pantai, katanya pantai di Garut masih alami banget, tapi rute jalannya masih begitu rumit, berkelok-kelok, jauh lagi, dp menghabiskan banyak waktu di jalan, akhirnya pantai tidak menjadi pilihan.
Berangkat dari Bandung pk.09.00 pagi, setelah pada mandi (Sttttttt….. tp 2 org di rombongan blm mandi, katanya mau mandi nti aja di pemandian air panas. Siapa tuuuuuuu????) kita go to Garut dengan diantar Bp. Afud, Bapak sopir dari rental yg kita sewa untuk 2 hari liburan kita. (Tadinya aku pengin diantar Bp. Kus yg dulu pernah mengantar ke Ciwidey, tp tyt bapak ini lagi sakit. Akhirnya diantar Bp. Afud. Wajahnya mirip Bp. Kus. Apa masih saudara ya?)
Memasuki kawasan Situ Cangkuang, kita melihat pemandangan yg sungguh apik, perairan yang dipenuhi bunga teratai warna pink yg sedang mekar2nya. Cuantiknya……….
Poto2 hyuuk……..
‘Nti aja pas pulangnya ya!’
Akhirnya kita memasuki Situ Cangkuang. Semua kecewa. ‘Cuma kaya gini doank!!!!!’
Tadinya kita memutuskan mau cabut aja dari tempat yang baru kita longok dari pagar terlihat tdk menarik. Penataannya sungguh tidak bagus. Akhirnya kita memutuskan makan siang bekal kita di sana. Kita sewa rakit dulu buat menyebrang ke pulau. Kata temanku di Pulau itu ada sebuah candi dan sebuah makam yg dikeramatkan. Memasuki area Situ, retribusi per orang @Rp.2.000,- Menyeberang via rakit tariff per orang @Rp.3.000,-. Lebih kurang 5menit kita sudah sampai di Pulau kecil di tengah danau.
Candi Cangkuang berikut Makam Eyang Embah Dalem Arif Muhammad
Foto2 narsis kita................
Dan kita lebih ilfil lg, jd pd tdk bersemangat. Candi-nya cuma kecil mungil dgn 1 kuburan kecil di belakangnya. Kita yg tinggal di Jawa Tengah, yg sudah terbiasa melihat candi Borobudur dan Prambanan, sama sekali tak tertarik melihat candi ini.
Di sana akhirnya cuma pada duduk2 makan jagung bakar yg bapaknya membakarnya kurang matang, lanjut makan siang di tepi danau ditemani ayam2 yg pada berebut makan siang kita. Gila….. di sana banyak ayam. Ayam jago, ayam babon, dan anak2 ayam. Rame dah ma suara2 ayam dan teriakan kita mengusir ayam2 yg terus berusaha merebut makanan kita. Husss….. husss…..
Setelah makan, cuma Week yg mau menemaniku naik ke atas. Penasaran pengin lihat candinya kaya apa sih. Dah jauh2 mpe sana ga naik kok rasanya sayang juga. Mau masuk ke lokasi candi ada loket lagi. Dgn tariff per orang @Rp.2.000,- Tyt bagi kita2 yg sudah beli tiket sebelum menyeberang, kita sudah tdk perlu bayar lagi. Untung belum terlanjur beli tiket lagi. Biar pun masuk ke kawasan candi tidak perlu bayar lagi, yg lain tetap ga mau naik. Akhirnya berdua ma Week aja kita mendaki deretan tangga menuju ke candi. Di sepanjang jalan banyak dijumpai pedagang aneka souvenir. He he… aku suka miniature rakit, tadinya terpikir mau beli @Rp.15.000,-. Lucu juga buat mainan di air. Tapi urung……., takut nti cuma mubazir coz ga tau bakal main air di mana.
Dan benar saja, tdk ada yg menarik di atas. Setelah memotret sebentar, aku ma Week turun. Aku baca tulisan di pintu gerbang menuju candi… ‘Rumah Adat’ dgn anak panah penunjuk arah.
‘Kalau mau lihat Rumah Adat ke sana neng. Ga bayar kok!’ kata salah seorang pedagang di sana.
Akhirnya aku ma Week menuju ke sana. Rumah adat ‘Garut’. Rumah panggung ber-cat putih. Tadinya kukira boleh masuk, tyt tdk. Ada penduduk yg menempati rumah itu. Di ujung area rumah adat ada bangunan masjid. Aku ingat, aku pernah lihat tayangan ini di TV beberapa waktu yg lalu. Dan hasil dokumentasi selalu terlihat lebih bagus dari aslinya. Waktu lihat foto Situ Cangkuang juga terlihat bagus. Ternyata aslinya…….’Biasa saja’.
Yg di bawah sudah tdk sabar menungguku n Week, menelepon suruh cepat turun.
‘Ini mah orang Yogya ma orang Semarang mlesirke orang Bandung,’ seloroh temanku.
‘Maaf maaf. Kata temanku bagus. Ga tau-nya kaya gini doank.’
Rumah adat di Garut, gambar kedua merupakan gambar masjid adat di sana
Setelah kembali ke seberang dgn rakit lagi, kita semakin ilfil dan berjanji ga akan kembali ke sana lg. Si Bapak yg mendayung rakit, di awal bilang tariff @3.000 pp. Tyt saat bayar, kita diharuskan membayar Rp.35.000,- untuk 6 orang. Ini mah sebuah bentuk penipuan……… Hwuffffff……..
Ada kulihat bule di sana dan 3 rombongan bus pariwisata menyusul setelah kita.
Komentar kita semua……’Pasti habis ini tambah banyak yg kecewa. Kasihan ya mereka, dah jauh2 ke sini.’
Pulangnya niat mau foto2 di hamparan teratai, kita tambah kecewa lg. Tyt hamparan teratai menguncup semua. Yah, satu pelajaran lagi…….. ternyata bunga teratai mekar di pagi hari, menguncup di siang hari dan kembali mekar di sore hari. So klo mau menikmati keindahan bunga teratai klo ga pagi ya sore hari.
Ya sudah…… kita lanjutkan perjalanan ke Cipanas-Garut. Semoga kali ini lebih menarik.
Ada beberapa saran tentang tempat yang baiknya kita kunjungi di Cipanas-Garut. Tirta Gangga, Sumber Alam, Sabda Alam. Pertama kita ke ‘Tirta Gangga’ melongok dulu, @Rp.25.000,-. Sebuah hotel dgn kolam renang air panas, begitu juga dgn Sumber Alam. Kita urung. Di Bandung, di Yogya, di Semarang, kolam renang jg ada.
Kita meluncur ke ‘Sabda Alam’, sebuah pemandian air panas yg baru dibangun. Tempatnya luas dan sepertinya bakal ada perluasan lagi. Berlatar pegunungan yg bagus sekali. Hampir seperti waterboom dgn aneka permainan air. Kaya gini mah di Solo juga ada. @Rp.30.000,-
Coz mungkin dah pada ilfil, sama sekali ga ada niat buat pada masuk. Kita cuma melongok dari luar aja. So crowded. Yah, bertepatan dgn longweekend sih.
Akhirnya kita memutuskan back to Bandung. Ke Lembang ajah…..
Taman Air Sabda Alam - Garut
He he maaf2….. Ini coz aku kurang mencari informasi. Kmrn cm dengar mpe 3rd opinion. Besok lagi bakal cari mpe 7th opinion dah klo mang belum bener2 mengenal sebuah lokasi.
Hari ini ceritanya kita ‘back to d village.’
He he…. Wong ndeso dijak liburan ke ndeso….. Yo jelas ga tertarik………~_^
Maap…… maap ya….. Tapi seharian kita puas ketawa kan…… Mengomentarin banyak hal. Kekurangberuntungan kita, 4 jam perjalanan terbuang percuma dan banyak pemandangan menarik yang kita lihat sepanjang perjalanan.
So….. kusarankan bagi yg belum pernah ke sana. Jgn mau klo diajak ke Situ Cangkuang. Dp nti jadi kecewa.
Tapi gapapa juga sih buat menambah pengalaman. Pengalaman untuk tidak2 lagi ke sana sebelum ada pembenahan2.
Sekali lagi maaf buat semua………………………………
Tapi jadi pada punya bahan obrolan seru buat beberapa hari ke depan kan?
Gapapa kok, aku rela biarpun jadi subyek cerita, jadi obyek penderita. He he he.
Berendam di Situ Cangkuang hyuuuuuuu……….~_^
Note: Sebenarnya pengin ke ‘Sampiren’…… tapi apa daya budget-na belum mencukupi. Nabung dulu ya!!!!!!!!!!!!! ^_^
Friday, April 24, 2009
TENTANG PEMILU SEKARANG
Pemilu Caleg,
Aku kagak gitu ngerti tentang Pemilu kali ini.
Sejak awal dengar bakal ada ‘Pemilu Caleg’, Caleg akan dipilih langsung oleh rakyat, aku kok merasa kurang sreg ya. Tadinya kupikir mungkin karena sebuah perubahan, sebuah sistem baru, butuh waktu untuk penyesuaian. Tapi mpe sekarang rasa kurang sreg n ga ngerti dengan sistem baru ini tetap ada. Apa aku yg kurang mencari informasi tentang sistematika Pemilu ini ya.
Tapi memang iya sih. Pemilu Caleg ini begitu rawan money politic, rawan KKN. Dan begitu banyak orang yg ga mengenal caleg2, akhirnya akan banyak yg lebih memilih Golput, asal nyontreng atau salah nyontreng.
Waktu Pemilu kemarin, tiap ketemu teman2ku atau tetanggaku, pasti banyakan berkomentar, tidak tahu harus nyontreng yg mana coz ga ada yg kenal. Apalagi aku, terbiasa tinggal di
Ibuku yg getol mempromosikan salah satu caleg,malah dia salah nyontreng coz bingung saking gedhenya lembaran kertas. Adikku yg baru pertama kali nyontreng, juga salah nyontreng. Bisa dimaklumi coz baru belajar. He he
Aku yg sejak awal dipromosiin oleh Ibuku supaya ikut nyontreng caleg jagoannya, memang sengaja ga memilih dia coz beda partai dengan partai yg aku pilih. Boleh donk beda. Sejak awal Ibuku juga tau, kita berbeda pandangan. He he he…. Biar bervariasi.
Kata ayahku, kalau memilih partai kecil, terus partainya kalah, suara kita akan hilang, mending milih partai yang kira2 suara kita bisa terakomodinir. He he ga taulah. Mpe waktu nyontreng hampir habis, ayah dan ibuku masih berdebat soal ini di rumah.
Soal
Waktu nyontreng, suer aku bingung harus nyontreng yg mana. Sama sekali blank ga ada bayangan lihat deretan nama2 caleg, so asal saja di deretan partai yg aku vote in, pilih caleg sesuai filling aja, yg kira2 namanya meyakinkan. He he. Padahal nama belum tentu menjamin ya. Apalah arti sebuah nama. Form merah, kuning, hijau, biru, di antara keempat warna itu Caleg yg aku contreng yg aku tahu benar cuma 2 orang. So fifty fifty lah, dp blank sama sekali. Mau milih caleg yang dari wajahnya kelihatan intelektual juga ga bisa, di form cuma deretan nama doank, ga ada foto yg terpampang. Klo mau lihat foto ada ditempel di papan display, tapi males mau lihat dulu, pasti lupa lagi lupa lagi.
Untuk Pemilu model begini, pastinya yg banyak diuntungkan Caleg dari kalangan selebritis. Nama mereka sudah banyak dikenal public, so akan banyak orang yg prefer nyontreng mereka dp nyontreng nama yg tidak dikenal. Untuk Caleg yg punya dana kampanye tinggi atau punya koneksi dan family banyak, mereka juga akan memperoleh lebih banyak dukungan. So unsur KKN banyak main di sini.
Kenapa aku ngerasa Pemilu seperti ini kurang efektif ya. Aku prefer Pemilu tahap I memilih Partai saja, baru Pemilu tahap ke-2 memilih Capres langsung bolehlah. Memilih Capres langsung, paling tidak kita sudah tahu sosok yg kita pilih, sosok yang lebih familiar. Lha para caleg ini, banyak yg sama sekali belum kenal, tahu namanya saja pas hari H Pemilu. Dan Pemilu seperti ini jauh lebih ‘boros’. Coba bejuta-juta lembaran kertas segedhe gitu, mana tebal and berwarna lagi, butuh budget yg besar
Soal pemilihan Caleg, aku merasa lebih sreg kalau itu diserahkan ke partainya saja. Biar menjadi urusan internal partai toh mereka yg lebih tahu person2nya mana yg berkompenten, mana yg capable, mana yg berdedikasi. Partai juga ga akan sembarangan menempatkan caleg mereka duduk di kursi dewan, pastinya dengan begitu banyak pertimbangan demi tetap solidnya partai.
Pemilu seperti ini, akhirnya pada main jor2an. Caleg dgn modal gedhe, punya dana kampanye gedhe, pasang aneka perangkat publikasi di mana2 ampe jalan raya penuh dengan deretan poster dan atribut partai. Ampe lampu pengatur lalu lintas juga banyak yg ga terlihat coz ketutup aneka bendera, poster dan spanduk, bikin kemacetan. Wah… bener2 sebuah pemandangan yg tidak bagus, apalagi pemasangan aneka perangkat publikasi ini begitu tidak sistematis, asal pasang dan asal bisa dilihat banyak orang. Jadi benar2 crowded, merusak keindahan. Hal ini pun sempat menjadi uneg2 turis asing yang berwisata ke
Usai Pemilu tahap I ini, banyak caleg yg gagal, yg kalah suara jadi stress, bahkan ada yg mpe nekad bunuh diri. Coba, seseorang dgn mental seperti itu mencalonkan diri menjadi Caleg. Gimana kalau nanti benar2 terpilih, mendapat tekanan sedikit saja pasti akan langsung down, tak berkutik menerima suap atau gertakan, apa bisa orang seperti itu mengaspirasi suara rakyat.
Yah, ga taulah. Mg2 perubahan sistem ini bisa membawa perubahan ke arah yg lebih baik. Pelan tapi pasti, semoga sistem baru ini bisa berjalan dengan tertib dan bisa dimengerti semua pihak, bukan cuma asal ngerti saja, supaya benar2 bisa kena sasaran dan menghasilkan pemimpin yg benar2 bisa memimpin dan memajukan bangsa ini. Amin.
He he… boleh